Perfectionism: a personal standard, attitude, or philosophy that demands perfection, and reject anything else (Webster's Encyclopedic Unabridged Dictionary of The English Language, p. 1552).
Apakah Anda seorang perfeksionis?? Well, I think I'm a little bit perfectionist ;p Yah, kalo skala 1-10, mungkin masih ada di 4 atau 5. Tadinya saya merasa bahwa menjadi seseorang yang perfeksionis itu bagus, atau setidaknya normal. Bukankah kita memang harus mengerjakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya? Kalau kita nggak berusaha mengerjakan dengan sebaik-baiknya, bagaimana hasilnya bisa memuaskan, ya kan? Ya, bener sih.. Memang kita harus mengusahakan yang maksimal, tapi bukan berarti kita harus menjadi seorang perfeksionis lho..
Saya baru aja disadarkan dengan hal ini beberapa hari yang lalu. Peristiwa lengkapnya nggak akan ditulis (mengingat mungkin ada pihak yang tidak berkenan ceritanya dipaparkan dengan gamblang). Peristiwa ini menyadarkan saya bahwa, menjadi seorang perfeksionis itu bagus hanya dalam batas tertentu. I'm not saying that it's bad at all, tapi ketika sudah mencapai titik tertentu, it's pretty annoying, especially in a relationship with other people.. Jangankan dalam berpacaran, dalam kerja kelompok aja kadang-kadang cukup membuat suasana kerja menjadi nggak enak.. Kurang ini lah, kurang itu lah, kok yang ini begini, kayaknya masih bisa lebih bagus deh.. Mungkin kita nggak sadar, tapi terkadang sifat kita yang satu ini menyinggung perasaan orang lain. Membuat mereka seolah-olah tidak dihargai..
Selain menyinggung perasaan orang lain, yang berarti merugikan orang lain, sifat perfeksionis juga sebenarnya merugikan diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita akan terus menerus dikecewakan dengan hak-hal kecil, yang sebenernya nggak terlalu penting. Kita mungkin berharap segala sesuatu dapat berjalan sempurna, but you must know that in this world, nothing is perfect. Either you want to keep demanding, or you can just accept it and be grateful for what you have.. Kadang gue merasa, by being a perfectionist, kita cuma melihat titik hitam kecil di antara satu lembar kertas yang putih bersih.. Cuma karena titik hitam kecil itu, semua yang putih tidak dianggap lagi.
So, this is the different between perfectionist and not perfectionist. Orang yang tidak perfeksionis mungkin akan mengusahakan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin, tapi ketika terjadi kesalahan, dia bisa tetap bersyukur dengan hasil pekerjaannya, dan tidak terlalu kecewa dengan apa yang terjadi. Sebaliknya, orang perfeksionis akan mengusahakan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin, dan ketika terjadi kesalahan, dia akan kecewa kemudian menganggap semua yang telah dikerjakannya sia-sia. Dia akan terus membicarakan kesalahan tersebut, menyesalinya, menggerutu..
Being a perfectionist is good?? Well, setelah peristiwa yang saya alami, saya jadi merevisi pandangan gue itu. Sekarang, saya sedang mencoba untuk melihat setiap peristiwa dari sudut pandang yang lebih positif. Bahasa lainnya, bersyukur. Have a good day, everyone.. :)
No comments:
Post a Comment