Showing posts with label moments. Show all posts
Showing posts with label moments. Show all posts

Sunday, November 25, 2012

NDHU Culture Night: Sneak Peak

"Everybody who gather here today will feel that the world is small place; we came from different country, yet we all here in this room celebrating the diversity of our culture..."


Electro-Techno Neon Gods

The Dragon Dance

Rainbow Spiral World Percussion

Taiwan Aboriginal Dance 

Hualien Drumming Orchestra

There's a local student who make us an Indonesian flag. Xie xie ni ! :)





Sunday, October 4, 2009

suatu hari di bus kota

Entah mengapa, akhir-akhir ini saya sering diajak ngobrol supir atau kenek bus. Yah, nggak bisa dibilang sering juga sih, karena baru dua kali hihihi tapi kalau mau dihitung rasionya, ini baru kali pertama dalam sejarah saya naik bus. Dulu-dulu sih pernah, tapi paling juga nanya, “Jam berapa, mbak?” atau “Di daerah ini masih hujan nggak, mbak?” (dikiranya gue pawang hujan kali hehe).

Nah ceritanya, dalam 3 hari ini, terjadi 2 peristiwa di mana supir dan kenek bus itu mengajak saya ngobrol. Peristiwa yang kedua baru saja terjadi kemarin, sekitar jam 6.45 sore. Waktu itu saya baru pulang mengajar, dan hujan deras sekali di daerah roxy. Seperti biasa, dari roxy ke rumah saya, saya tempuh dengan menggunakan metromini 91 jurusan tanah abang-batu sari. Begitu saya naik bus, si abang kenek sedang mengelap kursi-kursi yang basah akibat bocor. Kemudian, dia berkata pada saya, “Di sini aja Neng duduknya, di sini nggak bocor. Kalau yang lain kena bocor.” Saya pun hanya tersenyum, menuruti anjurannya, dan duduk di tempat yang ia anjurkan. Setelah itu, ia pun duduk di tempat duduk yg terletak di sebelah supir. Selang beberapa menit, naik lah tiga orang ibu-ibu dengan satu anak kecil. Ibu-ibu ini kebingungan karena di mana-mana kok bocor semua. Si kenek pun mempersilahkan tempat duduknya diambil oleh ibu-ibu ini, dan ia kemudian pindah ke tempat duduk di sebelah saya (yang agak kena cipratan air karena terletak di sebelah jendela).

Beberapa menit setelah ia duduk, ia mulai mengajak ngobrol saya. Dibuka dengan pertanyaan, ”Baru pulang kuliah, Neng?”, ia mulai cerita bermacam-macam hal. Mulai dari tips menghindari copet, pengalamannya kerja jadi kenek, sampai topik mati lampu dan apesnya uang setoran kalau sedang hujan. Dalam hati saya, ini orang ngajak ngobrol apa curhat colongan, hehehe ;p pas saya turun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.”

Peristiwa yang pertama terjadi 3 hari yang lalu, ketika saya pulang kuliah. Ini pun terjadi ketika saya naik metromini 91 dari kampus ke rumah. Waktu itu, yang mengajak ngobrol si abang supir, karena saya duduk di sebelah supir. Percakapan ini pun dimulai dari pertanyaan, ”Pulang kuliah ya, Neng?”. Kalau dengan si abang kenek, ia lebih banyak cerita, kali ini si abang supir lebih banyak bertanya kepada saya. Mulai dari pertanyaan kuliah jurusan apa, udah semester berapa, asli orang mana, usia saya berapa, dan akhirnya ia pun cerita satu topik yang membuat saya tergugah. Ceritanya begini..

Abang Supir (AS): ”Tumben lho Neng, ada orang kayak Neng. Jarang-jarang, Neng.”
Saya: ”Maksudnya??”
AS: ”Iya, biasanya kalo orang kayak Neng itu sombong, kalo diajak ngobrol suka pura-pura nggak denger, jadi nggak dijawabin.”
Saya: ”Ah, masa sih Bang?”
AS: ”Iya Neng, kebanyakan mahasiswa begitu.”
Saya: "Mungkin emang beneran nggak denger kali Bang.. Kan mesinnya berisik begini."
AS: "Ah, nggak mungkin Neng. Orang bukan sekali dua kali.."
Saya: ”Atau mungkin lagi jelek mood-nya Bang, siapa tau lagi bokek..”
AS: ”Hahaha iya juga ya Neng.. Mungkin nggak semuanya kayak gitu kali ya?”
Saya: ”Iya Bang, nggak bisa kita bilang semuanya kayak gitu. Siapa tau juga orang yang Abang ajak ngobrol itu lagi patah hati Bang, jadi males ngomong hehehe..”
AS: ”Hahaha si Eneng bisa aja..”

Obrolan pun terus berlanjut, dan tidak lama sesudah itu, saya turun. Pas saya turun pun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.” Nah, kenapa saya bilang tergugah?? Karena seringkali kita bersikap pada orang lain dengan memandang strata sosial mereka. Kalau orangnya kira-kira kucel2, kita akan cenderung menjaga jarak, bahkan seperti kata si abang supir, pura-pura tidak mendengar ketika diajak bicara. Kita sudah cenderung memiliki praduga yang buruk, jangan-jangan orang ini mau jahatin saya. Padahal sebenernya, kita semua adalah sama di mata Tuhan. Mau yang kucel, yang bling-bling, yang kulit hitam, kulit putih, yang sipit, belo, tua, muda, semua sama saja. Jadi, jangan salahkan orang lain, kalau mereka punya stereotipe bahwa kelompok orang tertentu sombong, karena memang sikap kita kepada mereka yang membentuk semua stereotipe itu! Alangkah baiknya kalau semua kelompok bisa rukun dan bisa bersikap satu sama lain tanpa adanya prasangka tertentu :)

Dan satu pelajaran lagi, di tengah-tengah dunia yang jahat ini, ternyata masih ada kok orang-orang baik, seperti si abang kenek yang memberikan saya tempat duduk bebas bocor dan memberikan saya tips anti-copet.. Jadi janganlah kita menganggap semua orang itu sama. Kadang, ada orang-orang tertentu yang ’berbeda’.

Salam,

natalie_ijonk

Friday, August 21, 2009

gemuk.. gemuk.. gemuk..

8 Agustus 2009, acara ulang tahun keponakan yang bertempat di sebuah salon nailspa di Jakarta Selatan.
Mama mertua dari kakak laki-laki saya (MMKLS) :" Lia, kok sekarang gemuk amat nih.."
Saya :" Hehehe.. Iya nih, Tante. Lagi liburan sih.." (sambil tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Kurusin dong. Tuh liat si cici (kakak perempuan saya), biarin anaknya udah dua, tapi badan tetep jadi.."
Saya: "Hehehe.." (masih tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Yah.. Kasih deh 5 kg-nya ke si koko (kakak laki-laki saya memang dilahirkan dan ditakdirkan kurus), biar dia gemukan dikit.."
Saya: "Hehehe.."

9 Agustus 2009, pembicaraan telepon antara kakak perempuan dengan mama saya.
Kakak: "Ma, bilangin tuh si Lia, jangan makan mulu. Udah gemuk gitu.."
Mama: "Ah, dia emang makan mulu. Susah kalo dibilangin.."
Kakak: "Iya sih.. Tapi dia sekarang udah bulet banget lho. Nanti susah cari baju."

10 Agustus 2009, ketika membukakan pintu untuk mbak saya yang baru balik dari kampungnya.
Ibu Gina (nama mbak saya): "Asalamualaikum, Non."
Saya: "Walaikumsalam, Bu. Sehat-sehat nih?"
Ibu Gina: "Alhamdulilah, Non. Non juga kayaknya subur banget nih, Non?"
Saya: "Hah?"
Ibu Gina: "Gemukan, Non, maksudnya.."
Saya: "Hehehe.." (ketawa pasrah)

21 Agustus 2009, seusai menghadiri acara seminar di kampus. Pas mau keluar ruangan, eh berpapasan dengan salah satu dosen saya yang dulu mengajar Psikologi Faal, yang juga adalah seorang dokter.
Saya: "Halo, Dok."
Pak Dosen: "Eh, kamu. Gemuk amat nih sekarang?"
Saya: "Hehehe.. Dokter juga gemukan nih kayaknya?"
Pak Dosen: "Kalo dosen gemukan mah biasa.. Tapi beneran lho, kamu kok bisa gemuk banget gini sih?"
Saya: "Iya nih, Dok.. Nggak tau juga kenapa, hehehe.." (ketawa pasrah)

Teman-teman sekalian, sesungguhnya saya tidak tahu apa saya memang segemuk dan sebulet itu, sampe banyak sekali orang yang bilang saya gemukan. Percakapan yang di atas baru secuplik dari sekian banyak orang lain yang bilang hal yang serupa (pacar saya kayaknya yang paling sering kedua, setelah papa dan mama saya). Tapi setelah percakapan dengan dosen saya itu, saya merasa, mungkin ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk menurunkan berat badan saya. Memang, angka di timbangan belum sampe bombastis banget sih, tapi kenaikannya sudah cukup signifikan lah.. Sejujurnya, saya termasuk orang yang beranggapan bahwa, untuk jadi seorang perempuan yang cantik tidak dibutuhkan badan yang kurus ceking. Makanya selama ini (yah at least sampai saat ini) saya tidak pernah berdiet. Ikut nge-gym pernah, tapi untuk semata-mata membuat badan lebih sehat.

Sooo... Mengingat besok adalah hari pertama puasa, saya dan 3 orang teman sudah berjanji untuk ikutan berpuasa. Bukan 100% puasa sih, tapi puasa karbohidrat saja :) dan tentu saja, makanan yang manis2 dilarang juga yah (kopi, es teh manis, biskuit, kue, dll). Doakan semoga berhasil yah dietnya hehehe..

Ps: Untuk semua orang yang sudah bilang saya gemukan, saya ucapkan terima kasih. Saya menganggapnya sebagai bentuk kepedulian kalian kepada saya dan bentuk motivasi bagi saya untuk bisa memiliki tubuh yang lebih sehat (dan singset tentunya hihihihi)..

Salam,

natalie_ijonk

Thursday, August 13, 2009

mental breakdown

Kenapa yah belakangan ini banyak artis2 yang mengalami mental breakdown?? Saya nggak tau definisi ilmiahnya sih, tapi kalo boleh dibilang dengan gamblang, mereka tiba2 jadi seperti orang gila. Ehm, crazy is a pretty strong word, tapi kayaknya cukup mewakili perilaku mereka yang aneh2 itu sih.. Dulu kita semua tau ada artis hollywood berinisial BS yang cukup lama menjadi headline dunia hiburan karena ulahnya yang macem2 itu. Baru2 ini ada lagi artis hollywood berinisial MB yang kabarnya masuk rumah sakit karena alasan psikis. Well well, artis indonesia juga nggak mau kalah dong. Baru 2 hari yang lalu saya iseng2 liat youtube (taunya juga dari teman melalui facebook), katanya ada artis berinisial M yang bikin video aneh. Karena penasaran dengan teman saya yang ngabarin di facebook, saya segera lihat youtube. Dan ternyata memang videonya aneh. Lebih tepatnya, attention-seeking banget. Masa merekam diri sendiri lagi nangis2 terus di-upload di internet? Buat apa coba..

Entah kenapa, pas ngeliat video itu, saya lalu bertanya2, apa orang ini sedang mengalami indikasi mental breakdown juga yah? Dan entah kenapa juga, saya yakin bahwa jawabannya iya hahahaha call me cruel, call me evil ;p Apalagi pas saya melihat video2 berikutnya, yang isinya M sedang nyanyi2 trus ngata2in teman2 SD nya yang katanya dulu jahatin dia sambil ketawa menggila gitu, dalam hati saya bilang, wah ini sih indikasi bipolar disorder nih.. Abis nangis2 terus ketawa2, nari2, ngata2in orang.. Mohon dimaklumin yah, saya adalah psychologist-wanna-be, jadi ada kecenderungan melihat orang melalui kacamata teori2 psikologi, apalagi kalo perilakunya udah menjurus ke abnormalitas hihihihi..

Sebenernya kalo mau lebih jeli melihat orang2 di sekitar kita, banyak juga orang biasa yang mengalami mental breakdown. Cuma, kadang tidak terdeteksi, karena pihak keluarga pasti berusaha menutupi2.. Sekarang ini tahun 2009, tapi kalo mau ngomongin orang2 dengan gangguan jiwa, kayaknya nggak beda jauh deh sama jaman dulu. Orang2 yang mengalami gangguan jiwa pasti udah keburu dicap negatif dulu, sampe2 pihak keluarga memandangnya sebagai aib. Dikucilin, ditelantarkan di rumah, dikurung, atau dikirim ke desa biar nggak ada yang tau.. Aneh yah, orang bisa dengan santai bilang, "Suami saya kena stroke", tapi mana bisa bilang "Suami saya kena skizofrenia?" Mungkin ini juga yang memotivasi saya untuk menjadi psikolog klinis. Saya terbeban dengan mereka2 ini, orang2 yang ketika sudah didiagnosis menderita gangguan tertentu, biasanya akan 'dibuang'. Apakah kita nggak sadar bahwa mereka ini, meskipun memiliki embel2 gangguan kejiwaan, tetap manusia? Punya hati, punya perasaan..
Dan lagi, diagnosa ini bukan harga mati kok. Dalam artian, meskipun menderita gangguan kejiwaan, mereka sebenarnya tetap bisa berkarya asal masyarakat mau sama2 memfasilitasi. Buktinya, Robert Schumann, salah satu pianis terbesar zaman romantik, adalah salah satu penderita bipolar disorder. Tapi justru di saat2 dia mengalami perubahan mood yang ekstrem itu lah, karya2nya dihasilkan..

Salam,

natalie_ijonk

Tuesday, August 11, 2009

captivated..inspired..

Hari ini saya masih dalam suasana terkagum2 dengan peserta Asean International Concerto Competition (yang sekarang sedang berlangsung di YMJ cabang BSD).. Ok, so here's the story.

Ceritanya kemaren saya pergi menonton kompetisi itu dengan guru piano saya. Tadinya nggak ada niatan mau nonton, karena tempatnya nan jauh di sana, dan saya tidak ada kendaraan.. Tapi nasib berkata lain, guru piano saya secara tiba2 ngajakin nonton dan pergi bareng, jadilah saya pergi. Kompetisi untuk piano dan biola ini dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan usia. Kategori A untuk usia 8-13 tahun, kategori B untuk usia 13-21 tahun, kategori C untuk usia 21-26 tahun (kalo nggak salah hehehe). Yang kemaren saya tonton adalah babak penyisihan kategori C dan babak semifinal kategori A. Karena ada embel2nya international competition, sudah bisa ditebak kalo pesertanya dari mana2, ada yang dari Thailand, Vietnam, Korea, China, bahkan katanya ada yang dari Afrika Selatan segala.. Sungguh terkagum2 deh dengan semangat anak2 ini untuk bertanding. Mereka rela datang jauh2 ke Indonesia, rela izin dari sekolah, rela latihan berjam2 untuk mencapai cita2nya.. Untuk kategori A, mereka harus main 1 etude dan 1 karya polifoni untuk penyisihan, dan 1 bagian sonata dan 1 lagu untuk babak semifinal. Semua karya dimainkan dengan HAFAL.

Satu kejadian yang cukup 'menampar' saya adalah pas saya melihat satu peserta dari Thailand main Chopin Etude op. 25 no. 9 'Butterfly'. Anaknya sih kecil, diperkirakan usia 8-10 tahun, kurus ceking pula, tapi tangannyyaaa dong, alamak! Jari2nya yang kurus2 dan panjang2 itu dengan terampilnya menari di atas tuts, persis seperti kupu2 *lebai mode ON* hehehe pas liat dia main, saya sempet flashback ke saat2 dimana saya main lagu itu.. Kira2 5 tahun yang lalu, pas saya masih PC 1. Saya belajar lagu itu kurang lebih 6-8 bulan, karena untuk bahan ujian tahunan. Walaupun lagunya cuman 2 halaman, dan kalo dimainin nggak nyampe 3 menit, tapi belajarnya susaaahhh banggeeet karena mesti lincah dan cepet, juga menuntut tangan untuk dibuka lebar2 (banyak not2 yg lompat).. Malahan dulu Ibu Kuei Pin udah rekomendasi untuk ganti lagu, karena katanya nggak cocok dengan tanganku yang 'agak2 pendek' hmmm..

Pas liat dia juga, terbersit perasaan malu, karena merasa anak2 ini pada hebat2 amat.. Kayaknya pas dulu saya seusia mereka, saya tidak sehebat dan sekeren itu (pastinya tidak ikut kompetisi tingkat internasional)..


Tapi peristiwa ini membuat saya berpikir, memang yah segala sesuatu yang dikerjakan dengan kerja keras dan perjuangan akan terlihat juga hasilnya, cepat atau lambat. Buktinya, anak kecil aja bisa kok main lagu yang tingkatannya advance. Mungkin dia harus latihan ekstra keras selama berpuluh2 jam, selama berbulan2, tapi kerja keras itu toh membuahkan hasil..Jangan pernah alasan, saya mah masih muda, saya mah kurang pengalaman, saya mah kurang ini kurang itu.. Fight for what you want, for what you believe in. Semangat berlatih lagi! (^_^)// thanks little kid for inspiring me through your performance yesterday.. Ayo latihan, latihan...