Huuuaaa capek! Jam 20.40 baru nyampe rumah, dan sekarang (21.30) baru aja kelar mengirim data-data hasil olah data ke teman2 satu tim.. Jadi begini ceritanya, saya dan beberapa teman di kampus dipercaya untuk mewakili fakultas mengikuti sebuah lomba di sebuah universitas di Jawa Timur sana (ciieellah..) Dan karena baru terima kabar 2 hari yang lalu, sementara deadline pengumpulan materi adalah tgl27Okt, jadilah kita ngibrit tunggang-langgang mengerjakan semuanya.. Mulai dari cari topik, buat angket, sebar angket, olah data, sampai disusun menjadi sebuah poster untuk dikirim via e-mail.
Yang ingin saya bagikan malam ini bukanlah cerita mengenai terpilihnya saya untuk ikut lomba tsb, tapi pengalaman berharga selama proses pengolahan data yang barusan saja terjadi bersama seorang teman dan seorang dosen yang menurut saya... sangat luar biasa!
Begini ceritanya.. Tadi sore, tepatnya jam 16.00, saya dan teman saya (sebut saja NM) harus menunggu untuk dapat bertemu dengan Bapak T, seorang dosen yang akan membantu kami mengolah data. Ditunggu-tunggu, akhirnya jam 17.30 kita baru bisa bertemu dengan Bapak T,karena beliau baru selesai rapat. Jam 17.30 pun tidak langsung mengerjakan, tapi harus menunggu lagi, kurang lebih sampai jam 18.00 karena beliau harus mengurusi mahasiswa lain yang hendak meminjam alat tes.
Jam 18.00 pun dimulai proses pengolahan data.. Detail statistik-nya dilewatkan saja yah? =b selain tidak begitu paham, agak2 nggak pede kalo ngomongin angka2 hehehe bukan bidangnya soalnya! Nah, kita selesai mengolah data sekitar pukul 20.15. Selama proses pengolahan data berlangsung, Bapak T ini begitu sungguh2 meladeni setiap pertanyaan 'bodoh' kita seputar statistik (ya iya lah, orang kaga ngarti!), dan begitu serius menjelaskan gambaran hasil penelitian kita. Meskipun matanya sudah terlihat sayu, posisi duduknya pun udah bersender ke kursi, tangan kiri menopang kepala, sambil sesekali menguap, beliau tetap serius dan penuh senyum dalam mengerjakan pengolahan data ini sampai selesai.
Terus di mana bagian yang luar biasanya? Ketika sedang mengolah data, beberapa kali Bapak T menerima telpon (yang kalau saya tebak dari istrinya). Dari pembicaraannya tsb, saya pun tahu bahwa anaknya sedang sakit. Dan, ternyata beliau pun sedang sakit, karena (lagi-lagi dari pembicaraannya di telpon), beliau meng-cancel janjinya untuk ke dokter gigi untuk tambel gigi. Udah gitu, beliau ini nggak sungkan-sungkan untuk berbagi brownies dengan kita =b mungkin tampang2 kita udah tampang2 kelaperan banget kali yah hahahaha..Plus, pas kita pulang, Bapak T ini 'menghadiahkan' masing2 dari kita sepotong kue-nya, ckckckck.. Udah diolahin data, nebeng laptop, dapet konsumsi pula..
Setelah pulang, baru saya terkagum2 dengan kebaikan dan ketulusan hati Bapak T dalam melayani mahasiswanya. Emangnya kite ini siape sampe die segitunye??!! Tapi Bapak ini nampaknya tidak pernah membeda2kan siapa orang yang dibantunya, juga dengan siapa ia berhubungan. Ketika jalan keluar menuju jalan raya, sepanjang jalan Bapak T ini menegur setiap satpam dan petugas sekuriti yang ada di kampus. Dan canggihnya, ia tahu nama mereka satu per satu! Ckckck..Benar-benar lho, Bapak ini contoh nyata dari perumpamaan 'semakin berisi, padi akan semakin merunduk'. Kadang saya merasa malu sendiri, kok bisa yah orang hebat seperti beliau ini bisa begitu rendah hati dan mau melayani sesama?? *masih terkagum-kagum*
Ayuk yuk, kita mulai berbuat kebaikan dengan hal2 kecil yang bisa kita lakukan =) saya yakin, sebuah perbuatan yang sederhana pun dapat berdampak besar jika dilakukan dengan ketulusan hati..
Friday, October 23, 2009
Sunday, October 4, 2009
suatu hari di bus kota
Entah mengapa, akhir-akhir ini saya sering diajak ngobrol supir atau kenek bus. Yah, nggak bisa dibilang sering juga sih, karena baru dua kali hihihi tapi kalau mau dihitung rasionya, ini baru kali pertama dalam sejarah saya naik bus. Dulu-dulu sih pernah, tapi paling juga nanya, “Jam berapa, mbak?” atau “Di daerah ini masih hujan nggak, mbak?” (dikiranya gue pawang hujan kali hehe).
Nah ceritanya, dalam 3 hari ini, terjadi 2 peristiwa di mana supir dan kenek bus itu mengajak saya ngobrol. Peristiwa yang kedua baru saja terjadi kemarin, sekitar jam 6.45 sore. Waktu itu saya baru pulang mengajar, dan hujan deras sekali di daerah roxy. Seperti biasa, dari roxy ke rumah saya, saya tempuh dengan menggunakan metromini 91 jurusan tanah abang-batu sari. Begitu saya naik bus, si abang kenek sedang mengelap kursi-kursi yang basah akibat bocor. Kemudian, dia berkata pada saya, “Di sini aja Neng duduknya, di sini nggak bocor. Kalau yang lain kena bocor.” Saya pun hanya tersenyum, menuruti anjurannya, dan duduk di tempat yang ia anjurkan. Setelah itu, ia pun duduk di tempat duduk yg terletak di sebelah supir. Selang beberapa menit, naik lah tiga orang ibu-ibu dengan satu anak kecil. Ibu-ibu ini kebingungan karena di mana-mana kok bocor semua. Si kenek pun mempersilahkan tempat duduknya diambil oleh ibu-ibu ini, dan ia kemudian pindah ke tempat duduk di sebelah saya (yang agak kena cipratan air karena terletak di sebelah jendela).
Beberapa menit setelah ia duduk, ia mulai mengajak ngobrol saya. Dibuka dengan pertanyaan, ”Baru pulang kuliah, Neng?”, ia mulai cerita bermacam-macam hal. Mulai dari tips menghindari copet, pengalamannya kerja jadi kenek, sampai topik mati lampu dan apesnya uang setoran kalau sedang hujan. Dalam hati saya, ini orang ngajak ngobrol apa curhat colongan, hehehe ;p pas saya turun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.”
Peristiwa yang pertama terjadi 3 hari yang lalu, ketika saya pulang kuliah. Ini pun terjadi ketika saya naik metromini 91 dari kampus ke rumah. Waktu itu, yang mengajak ngobrol si abang supir, karena saya duduk di sebelah supir. Percakapan ini pun dimulai dari pertanyaan, ”Pulang kuliah ya, Neng?”. Kalau dengan si abang kenek, ia lebih banyak cerita, kali ini si abang supir lebih banyak bertanya kepada saya. Mulai dari pertanyaan kuliah jurusan apa, udah semester berapa, asli orang mana, usia saya berapa, dan akhirnya ia pun cerita satu topik yang membuat saya tergugah. Ceritanya begini..
Abang Supir (AS): ”Tumben lho Neng, ada orang kayak Neng. Jarang-jarang, Neng.”
Saya: ”Maksudnya??”
AS: ”Iya, biasanya kalo orang kayak Neng itu sombong, kalo diajak ngobrol suka pura-pura nggak denger, jadi nggak dijawabin.”
Saya: ”Ah, masa sih Bang?”
AS: ”Iya Neng, kebanyakan mahasiswa begitu.”
Saya: "Mungkin emang beneran nggak denger kali Bang.. Kan mesinnya berisik begini."
AS: "Ah, nggak mungkin Neng. Orang bukan sekali dua kali.."
Saya: ”Atau mungkin lagi jelek mood-nya Bang, siapa tau lagi bokek..”
AS: ”Hahaha iya juga ya Neng.. Mungkin nggak semuanya kayak gitu kali ya?”
Saya: ”Iya Bang, nggak bisa kita bilang semuanya kayak gitu. Siapa tau juga orang yang Abang ajak ngobrol itu lagi patah hati Bang, jadi males ngomong hehehe..”
AS: ”Hahaha si Eneng bisa aja..”
Obrolan pun terus berlanjut, dan tidak lama sesudah itu, saya turun. Pas saya turun pun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.” Nah, kenapa saya bilang tergugah?? Karena seringkali kita bersikap pada orang lain dengan memandang strata sosial mereka. Kalau orangnya kira-kira kucel2, kita akan cenderung menjaga jarak, bahkan seperti kata si abang supir, pura-pura tidak mendengar ketika diajak bicara. Kita sudah cenderung memiliki praduga yang buruk, jangan-jangan orang ini mau jahatin saya. Padahal sebenernya, kita semua adalah sama di mata Tuhan. Mau yang kucel, yang bling-bling, yang kulit hitam, kulit putih, yang sipit, belo, tua, muda, semua sama saja. Jadi, jangan salahkan orang lain, kalau mereka punya stereotipe bahwa kelompok orang tertentu sombong, karena memang sikap kita kepada mereka yang membentuk semua stereotipe itu! Alangkah baiknya kalau semua kelompok bisa rukun dan bisa bersikap satu sama lain tanpa adanya prasangka tertentu :)
Dan satu pelajaran lagi, di tengah-tengah dunia yang jahat ini, ternyata masih ada kok orang-orang baik, seperti si abang kenek yang memberikan saya tempat duduk bebas bocor dan memberikan saya tips anti-copet.. Jadi janganlah kita menganggap semua orang itu sama. Kadang, ada orang-orang tertentu yang ’berbeda’.
Salam,
natalie_ijonk
Nah ceritanya, dalam 3 hari ini, terjadi 2 peristiwa di mana supir dan kenek bus itu mengajak saya ngobrol. Peristiwa yang kedua baru saja terjadi kemarin, sekitar jam 6.45 sore. Waktu itu saya baru pulang mengajar, dan hujan deras sekali di daerah roxy. Seperti biasa, dari roxy ke rumah saya, saya tempuh dengan menggunakan metromini 91 jurusan tanah abang-batu sari. Begitu saya naik bus, si abang kenek sedang mengelap kursi-kursi yang basah akibat bocor. Kemudian, dia berkata pada saya, “Di sini aja Neng duduknya, di sini nggak bocor. Kalau yang lain kena bocor.” Saya pun hanya tersenyum, menuruti anjurannya, dan duduk di tempat yang ia anjurkan. Setelah itu, ia pun duduk di tempat duduk yg terletak di sebelah supir. Selang beberapa menit, naik lah tiga orang ibu-ibu dengan satu anak kecil. Ibu-ibu ini kebingungan karena di mana-mana kok bocor semua. Si kenek pun mempersilahkan tempat duduknya diambil oleh ibu-ibu ini, dan ia kemudian pindah ke tempat duduk di sebelah saya (yang agak kena cipratan air karena terletak di sebelah jendela).
Beberapa menit setelah ia duduk, ia mulai mengajak ngobrol saya. Dibuka dengan pertanyaan, ”Baru pulang kuliah, Neng?”, ia mulai cerita bermacam-macam hal. Mulai dari tips menghindari copet, pengalamannya kerja jadi kenek, sampai topik mati lampu dan apesnya uang setoran kalau sedang hujan. Dalam hati saya, ini orang ngajak ngobrol apa curhat colongan, hehehe ;p pas saya turun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.”
Peristiwa yang pertama terjadi 3 hari yang lalu, ketika saya pulang kuliah. Ini pun terjadi ketika saya naik metromini 91 dari kampus ke rumah. Waktu itu, yang mengajak ngobrol si abang supir, karena saya duduk di sebelah supir. Percakapan ini pun dimulai dari pertanyaan, ”Pulang kuliah ya, Neng?”. Kalau dengan si abang kenek, ia lebih banyak cerita, kali ini si abang supir lebih banyak bertanya kepada saya. Mulai dari pertanyaan kuliah jurusan apa, udah semester berapa, asli orang mana, usia saya berapa, dan akhirnya ia pun cerita satu topik yang membuat saya tergugah. Ceritanya begini..
Abang Supir (AS): ”Tumben lho Neng, ada orang kayak Neng. Jarang-jarang, Neng.”
Saya: ”Maksudnya??”
AS: ”Iya, biasanya kalo orang kayak Neng itu sombong, kalo diajak ngobrol suka pura-pura nggak denger, jadi nggak dijawabin.”
Saya: ”Ah, masa sih Bang?”
AS: ”Iya Neng, kebanyakan mahasiswa begitu.”
Saya: "Mungkin emang beneran nggak denger kali Bang.. Kan mesinnya berisik begini."
AS: "Ah, nggak mungkin Neng. Orang bukan sekali dua kali.."
Saya: ”Atau mungkin lagi jelek mood-nya Bang, siapa tau lagi bokek..”
AS: ”Hahaha iya juga ya Neng.. Mungkin nggak semuanya kayak gitu kali ya?”
Saya: ”Iya Bang, nggak bisa kita bilang semuanya kayak gitu. Siapa tau juga orang yang Abang ajak ngobrol itu lagi patah hati Bang, jadi males ngomong hehehe..”
AS: ”Hahaha si Eneng bisa aja..”
Obrolan pun terus berlanjut, dan tidak lama sesudah itu, saya turun. Pas saya turun pun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.” Nah, kenapa saya bilang tergugah?? Karena seringkali kita bersikap pada orang lain dengan memandang strata sosial mereka. Kalau orangnya kira-kira kucel2, kita akan cenderung menjaga jarak, bahkan seperti kata si abang supir, pura-pura tidak mendengar ketika diajak bicara. Kita sudah cenderung memiliki praduga yang buruk, jangan-jangan orang ini mau jahatin saya. Padahal sebenernya, kita semua adalah sama di mata Tuhan. Mau yang kucel, yang bling-bling, yang kulit hitam, kulit putih, yang sipit, belo, tua, muda, semua sama saja. Jadi, jangan salahkan orang lain, kalau mereka punya stereotipe bahwa kelompok orang tertentu sombong, karena memang sikap kita kepada mereka yang membentuk semua stereotipe itu! Alangkah baiknya kalau semua kelompok bisa rukun dan bisa bersikap satu sama lain tanpa adanya prasangka tertentu :)
Dan satu pelajaran lagi, di tengah-tengah dunia yang jahat ini, ternyata masih ada kok orang-orang baik, seperti si abang kenek yang memberikan saya tempat duduk bebas bocor dan memberikan saya tips anti-copet.. Jadi janganlah kita menganggap semua orang itu sama. Kadang, ada orang-orang tertentu yang ’berbeda’.
Salam,
natalie_ijonk
Sunday, September 27, 2009
mimpi
“Mimpi adalah kunci untuk kita untuk menaklukan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya...” –Laskar Pelangi/Nidji-
Hello guys, sudah lama sekali nggak nulis di blog lagi ;p mohon maklum, begini deh kerjaannya mahasiswa yang sedang skripsi, selalu dikejar2 deadline. Apalagi kemarin skripsiku sempat mendapat ’kejutan’ karena disuruh ganti judul. Alhasil kudu ulang dari pertama. Yah, saya antara bersyukur dan menderita mendengarnya. Bersyukur karena kalau ternyata judul saya tidak layak untuk diteliti, sudah diketahui sejak awal, sehingga belum terlambat untuk memperbaikinya. Menderita karena saya harus kerja dari awal lagi, ohhhh tiiidaaakkkk!! Ngumpulin jurnal lagi, ngubek buku di perpus lagi, cari data, translate bahan lagi, ya semuanya dikerjain dari awal.. Untungnya sekarang udah memasuki bab 2, sehingga bernapas lega sedikit (meskipun bab 1 pun belum kunjung dapet feedback dari ibu dosen pembimbing, sabar.. sabar..) ..
So, belakangan ini ceritanya saya sedang dilanda mimpi untuk sekolah ke luar negeri lagi. Kenapa? Ceritanya kemarin baru kelar membaca novel Negeri Van Oranje yang menceritakan kisah lima orang Indonesia yang menjadi mahasiswa s2 di Belanda (FYI, novelnya bagus kok, menghibur, dan cukup memberikan detail mengenai kota2 di Belanda, plus ada juga tips2 untuk kita yang mau backpacking atau mau jadi mahasiswa di sana).. Jadilah saya kembali larut dalam lamunan menjadi mahasiswa di negeri orang..Hal ini sih memang sudah lama menjadi keinginan saya. Hanya saja, kadang saya antara yakin dan tidak yakin untuk mengejarnya. Masalahnya, mau dapet duit dari mane, cui?! Kan pake dolar.. Di Eropa malah lebih gawat lagi, pake Euro..
Sebenernya belakangan ini saya sudah mulai berpikir, mau ngapain nih setelah lulus s1.. Kan ceritanya saya cukup PD untuk lulus tahun depan hehehe (PD boleh dong) =b Pengennya sih kerja dulu, untuk ngumpulin duit biar bisa biayain diri sendiri sekolah s2 lagi. Entah di luar negeri, entah di dalam negeri, saya belum tahu. Kumaha engke deh (gimana nanti aja deh).. s2 sih sudah pasti pengen ambil profesi psikolog, karena sayang banget kalau kuliah psikologi hanya sampai s1. Nanggung soalnya, mau praktek nggak bisa, paling banter jadi guru BP di sekolah2 yang notebene kerjaannya cuman ngurusin anak2 nyontek, aihh..
Jujur saja, saya agak pesimis mengenai peluang saya untuk bisa sekolah di luar negeri. Yang tadinya ngotot, sekarang udah agak pasrah. Dalam hati, yah kalo Tuhan mengizinkan, pasti Tuhan kasih jalan. Padahal, mestinya kita fight for what we want, right? Nah, saya kembali diingatkan untuk berjuang ketika mendengarkan lagu Ost. Laskar Pelangi dari Nidji. Saya teringat kembali kisah si Ikal dalam merantau di negeri orang. Bagaimana mungkin seorang anak dari desa di Belitong sana bisa hijrah ke Perancis, nggak tanggung2, di Universitas Sourborne pula! Kadangkala Tuhan kita memang tidak bisa dibatasi oleh akal sehat kita yang sangat sempit. Dia bisa melakukan segala sesuatu yang tampaknya tidak mungkin menjadi sangat mungkin. So.. Marilah kita berlari tanpa lelah dalam mengejar mimpi kita masing-masing, fight, fight, fight!! =)
Hello guys, sudah lama sekali nggak nulis di blog lagi ;p mohon maklum, begini deh kerjaannya mahasiswa yang sedang skripsi, selalu dikejar2 deadline. Apalagi kemarin skripsiku sempat mendapat ’kejutan’ karena disuruh ganti judul. Alhasil kudu ulang dari pertama. Yah, saya antara bersyukur dan menderita mendengarnya. Bersyukur karena kalau ternyata judul saya tidak layak untuk diteliti, sudah diketahui sejak awal, sehingga belum terlambat untuk memperbaikinya. Menderita karena saya harus kerja dari awal lagi, ohhhh tiiidaaakkkk!! Ngumpulin jurnal lagi, ngubek buku di perpus lagi, cari data, translate bahan lagi, ya semuanya dikerjain dari awal.. Untungnya sekarang udah memasuki bab 2, sehingga bernapas lega sedikit (meskipun bab 1 pun belum kunjung dapet feedback dari ibu dosen pembimbing, sabar.. sabar..) ..
So, belakangan ini ceritanya saya sedang dilanda mimpi untuk sekolah ke luar negeri lagi. Kenapa? Ceritanya kemarin baru kelar membaca novel Negeri Van Oranje yang menceritakan kisah lima orang Indonesia yang menjadi mahasiswa s2 di Belanda (FYI, novelnya bagus kok, menghibur, dan cukup memberikan detail mengenai kota2 di Belanda, plus ada juga tips2 untuk kita yang mau backpacking atau mau jadi mahasiswa di sana).. Jadilah saya kembali larut dalam lamunan menjadi mahasiswa di negeri orang..Hal ini sih memang sudah lama menjadi keinginan saya. Hanya saja, kadang saya antara yakin dan tidak yakin untuk mengejarnya. Masalahnya, mau dapet duit dari mane, cui?! Kan pake dolar.. Di Eropa malah lebih gawat lagi, pake Euro..
Sebenernya belakangan ini saya sudah mulai berpikir, mau ngapain nih setelah lulus s1.. Kan ceritanya saya cukup PD untuk lulus tahun depan hehehe (PD boleh dong) =b Pengennya sih kerja dulu, untuk ngumpulin duit biar bisa biayain diri sendiri sekolah s2 lagi. Entah di luar negeri, entah di dalam negeri, saya belum tahu. Kumaha engke deh (gimana nanti aja deh).. s2 sih sudah pasti pengen ambil profesi psikolog, karena sayang banget kalau kuliah psikologi hanya sampai s1. Nanggung soalnya, mau praktek nggak bisa, paling banter jadi guru BP di sekolah2 yang notebene kerjaannya cuman ngurusin anak2 nyontek, aihh..
Jujur saja, saya agak pesimis mengenai peluang saya untuk bisa sekolah di luar negeri. Yang tadinya ngotot, sekarang udah agak pasrah. Dalam hati, yah kalo Tuhan mengizinkan, pasti Tuhan kasih jalan. Padahal, mestinya kita fight for what we want, right? Nah, saya kembali diingatkan untuk berjuang ketika mendengarkan lagu Ost. Laskar Pelangi dari Nidji. Saya teringat kembali kisah si Ikal dalam merantau di negeri orang. Bagaimana mungkin seorang anak dari desa di Belitong sana bisa hijrah ke Perancis, nggak tanggung2, di Universitas Sourborne pula! Kadangkala Tuhan kita memang tidak bisa dibatasi oleh akal sehat kita yang sangat sempit. Dia bisa melakukan segala sesuatu yang tampaknya tidak mungkin menjadi sangat mungkin. So.. Marilah kita berlari tanpa lelah dalam mengejar mimpi kita masing-masing, fight, fight, fight!! =)
Thursday, August 27, 2009
boundaries
Saya bisa dibilang termasuk orang yang tidak suka dibatasi. Tidak suka diatur-atur. Free-spirited girl.. Tapi ini tidak berarti saya suka melanggar peraturan juga lho, not at all. Saya menghargai peraturan-peraturan itu, karena saya sadar bahwa semua itu dibuat toh untuk kenyamanan kita bersama. Namun, ketika memasuki area pribadi kehidupan saya, nah kumat deh sifat pemberontaknya hihihi ;p Pemberontak atau keras yah?? Kira-kira sama deh hehe Pokoke saya termasuk orang yang tidak bisa (atau sulit sekali) dipaksa. Mesti disadarkan dengan logika (dan dengan kesabaran hati yang ekstra) baru bisa =D Pacar saya kayaknya menjadi pihak yang paling dipusingkan dengan sifat saya ini (maap ya, darlingg hehehe) Untungnya, dia termasuk orang yang (saya anggap) bisa memahami dan menerima dengan baik sifat saya yang agak ajaib ini..
Akan tetapi, Tuhan memang maha adil dan sungguh misterius.. Terdapat satu kondisi dalam tubuh saya yang mengharuskan saya diatur setiap hari. SETIAP HARI. Kondisi itu adalah alergi bahan kimia. Gejalanya dimulai beberapa bulan yang lalu, ketika badan bagian perut dan pinggang gatal-gatal menggila. Beneran deh, waktu itu saya persis sekali seperti monyet, kerjaannya garuk sini garuk situ.. Dan kalo udah gatel, rasanya pengen saya copotin aja ini kulit, karena nggak tahan dengan gatelnya, ckckck...
Setelah dikonsultasikan ke dokter kulit, ternyata saya alergi bahan kimia. Ibu dokter dengan entengnya mengeluarkan satu lembar kertas yang berisi sejumlah larangan yang harus saya patuhi, kalau saya mau sembuh dari gatel-gatel itu.. Setelah melihat isi kertas itu, saya cukup dikagetkan dengan fakta bahwa hampir 99% barang-barang yang kita gunakan itu mengandung bahan kimia. Dari pakaian saja, saya tidak diperbolehkan menggunakan produk pemutih, pelembut, pewangi pakaian. Belum lagi dari produk sabun, bedak, kosmetik, parfum, minyak kayu putih, balsam, dll. Bisa dibayangkan, berapa banyak larangan yang harus saya patuhi, ckckck.. Tapi tenang, setelah minum obat dokter dan menggunakan salep selama beberapa hari, gatel-gatel itu berhasil lenyap dari badan saya...
Selama beberapa bulan saya hidup tenang, tanpa diganggu rasa gatel yang menyiksa.. Tiba-tiba, tepat hari sabtu minggu lalu, bibir saya terasa kering sekali. Saya pikir cuma kering biasa saja, paling dipakein lip balm juga sembuh.. Eh, udah 3 hari nggak sembuh juga. Dan pas saya lihat di kaca, ternyata di bibir bagian atas ada semacam garis kemerahan yang mengikuti bentuk bibir saya. Jadi, saya seolah-olah sedang menggunakan lip liner warna merah, tapi hanya pada bibir bagian atas. Duh! Apalagi ini.. Saya coba konsultasikan dengan mama saya. Mama saya bilang, mungkin alergi buah naga yang saya makan hari sabtu itu (karena itu baru kali pertama saya makan buah naga). Oh iya kali, dalam hati saya.. Hari ke-3, hari ke-4, hari ke-5, kok nggak ilang-ilang nih garis merahnya?!! Akhirnya tadi sore saya ke dokter juga.. Begitu melihat bibir saya, si Ibu dokter langsung bilang, "Oh, ini mah sama penyakitnya sama yang dulu.." Dan sekali lagi, ia mengeluarkan sebuah kertas yang berisi larangan-larangan baru yang harus saya ikuti. OHHH NOOOO...!!
Kalau boleh saya ringkas sedikit, berikut ini beberapa larangan yang harus saya ikuti (demi keindahan bibir saya):
-dilarang menggunakan lip balm, lip gloss, lipstik yang berwarna tua, serta lipstik yang tidak mudah luntur (produk lip stick colour stay).
-hindari makan buah dengan cara menggigit kulitnya, karena getahnya berpengaruh buruk untuk bibir alergi.
-ketika makan buah, usahakan agar buahnya tidak menyentuh bibir.
-ketika makan makanan yang mengandung bumbu (misalnya makanan berkuah santan, rendang, dll.) dan cabai, usahakan untuk tidak menyentuh bibir.
-ketika minum jus buah (terutama jus jeruk), usahakan minum dengan sedotan, untuk menghindari iritasi pada bibir.
-hindari pemakaian pasta gigi yg mengandung bahan yang dapat merusak bibir.
Hmm, pretty good list, right?? Good bye lip gloss Victoria Secret-ku, good bye juga lip balm The Body Shop-ku, hiksss... Namun, dari sekian banyak petuah-petuahnya yang menyiksa tersebut, ada satu kalimat yang cukup melegakan hati saya : TIDAK ADA PANTANGAN MAKANAN. Hehehe..
natalie_ijonk
Akan tetapi, Tuhan memang maha adil dan sungguh misterius.. Terdapat satu kondisi dalam tubuh saya yang mengharuskan saya diatur setiap hari. SETIAP HARI. Kondisi itu adalah alergi bahan kimia. Gejalanya dimulai beberapa bulan yang lalu, ketika badan bagian perut dan pinggang gatal-gatal menggila. Beneran deh, waktu itu saya persis sekali seperti monyet, kerjaannya garuk sini garuk situ.. Dan kalo udah gatel, rasanya pengen saya copotin aja ini kulit, karena nggak tahan dengan gatelnya, ckckck...
Setelah dikonsultasikan ke dokter kulit, ternyata saya alergi bahan kimia. Ibu dokter dengan entengnya mengeluarkan satu lembar kertas yang berisi sejumlah larangan yang harus saya patuhi, kalau saya mau sembuh dari gatel-gatel itu.. Setelah melihat isi kertas itu, saya cukup dikagetkan dengan fakta bahwa hampir 99% barang-barang yang kita gunakan itu mengandung bahan kimia. Dari pakaian saja, saya tidak diperbolehkan menggunakan produk pemutih, pelembut, pewangi pakaian. Belum lagi dari produk sabun, bedak, kosmetik, parfum, minyak kayu putih, balsam, dll. Bisa dibayangkan, berapa banyak larangan yang harus saya patuhi, ckckck.. Tapi tenang, setelah minum obat dokter dan menggunakan salep selama beberapa hari, gatel-gatel itu berhasil lenyap dari badan saya...
Selama beberapa bulan saya hidup tenang, tanpa diganggu rasa gatel yang menyiksa.. Tiba-tiba, tepat hari sabtu minggu lalu, bibir saya terasa kering sekali. Saya pikir cuma kering biasa saja, paling dipakein lip balm juga sembuh.. Eh, udah 3 hari nggak sembuh juga. Dan pas saya lihat di kaca, ternyata di bibir bagian atas ada semacam garis kemerahan yang mengikuti bentuk bibir saya. Jadi, saya seolah-olah sedang menggunakan lip liner warna merah, tapi hanya pada bibir bagian atas. Duh! Apalagi ini.. Saya coba konsultasikan dengan mama saya. Mama saya bilang, mungkin alergi buah naga yang saya makan hari sabtu itu (karena itu baru kali pertama saya makan buah naga). Oh iya kali, dalam hati saya.. Hari ke-3, hari ke-4, hari ke-5, kok nggak ilang-ilang nih garis merahnya?!! Akhirnya tadi sore saya ke dokter juga.. Begitu melihat bibir saya, si Ibu dokter langsung bilang, "Oh, ini mah sama penyakitnya sama yang dulu.." Dan sekali lagi, ia mengeluarkan sebuah kertas yang berisi larangan-larangan baru yang harus saya ikuti. OHHH NOOOO...!!
Kalau boleh saya ringkas sedikit, berikut ini beberapa larangan yang harus saya ikuti (demi keindahan bibir saya):
-dilarang menggunakan lip balm, lip gloss, lipstik yang berwarna tua, serta lipstik yang tidak mudah luntur (produk lip stick colour stay).
-hindari makan buah dengan cara menggigit kulitnya, karena getahnya berpengaruh buruk untuk bibir alergi.
-ketika makan buah, usahakan agar buahnya tidak menyentuh bibir.
-ketika makan makanan yang mengandung bumbu (misalnya makanan berkuah santan, rendang, dll.) dan cabai, usahakan untuk tidak menyentuh bibir.
-ketika minum jus buah (terutama jus jeruk), usahakan minum dengan sedotan, untuk menghindari iritasi pada bibir.
-hindari pemakaian pasta gigi yg mengandung bahan yang dapat merusak bibir.
Hmm, pretty good list, right?? Good bye lip gloss Victoria Secret-ku, good bye juga lip balm The Body Shop-ku, hiksss... Namun, dari sekian banyak petuah-petuahnya yang menyiksa tersebut, ada satu kalimat yang cukup melegakan hati saya : TIDAK ADA PANTANGAN MAKANAN. Hehehe..
natalie_ijonk
Friday, August 21, 2009
gemuk.. gemuk.. gemuk..
8 Agustus 2009, acara ulang tahun keponakan yang bertempat di sebuah salon nailspa di Jakarta Selatan.
Mama mertua dari kakak laki-laki saya (MMKLS) :" Lia, kok sekarang gemuk amat nih.."
Saya :" Hehehe.. Iya nih, Tante. Lagi liburan sih.." (sambil tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Kurusin dong. Tuh liat si cici (kakak perempuan saya), biarin anaknya udah dua, tapi badan tetep jadi.."
Saya: "Hehehe.." (masih tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Yah.. Kasih deh 5 kg-nya ke si koko (kakak laki-laki saya memang dilahirkan dan ditakdirkan kurus), biar dia gemukan dikit.."
Saya: "Hehehe.."
9 Agustus 2009, pembicaraan telepon antara kakak perempuan dengan mama saya.
Kakak: "Ma, bilangin tuh si Lia, jangan makan mulu. Udah gemuk gitu.."
Mama: "Ah, dia emang makan mulu. Susah kalo dibilangin.."
Kakak: "Iya sih.. Tapi dia sekarang udah bulet banget lho. Nanti susah cari baju."
10 Agustus 2009, ketika membukakan pintu untuk mbak saya yang baru balik dari kampungnya.
Ibu Gina (nama mbak saya): "Asalamualaikum, Non."
Saya: "Walaikumsalam, Bu. Sehat-sehat nih?"
Ibu Gina: "Alhamdulilah, Non. Non juga kayaknya subur banget nih, Non?"
Saya: "Hah?"
Ibu Gina: "Gemukan, Non, maksudnya.."
Saya: "Hehehe.." (ketawa pasrah)
21 Agustus 2009, seusai menghadiri acara seminar di kampus. Pas mau keluar ruangan, eh berpapasan dengan salah satu dosen saya yang dulu mengajar Psikologi Faal, yang juga adalah seorang dokter.
Saya: "Halo, Dok."
Pak Dosen: "Eh, kamu. Gemuk amat nih sekarang?"
Saya: "Hehehe.. Dokter juga gemukan nih kayaknya?"
Pak Dosen: "Kalo dosen gemukan mah biasa.. Tapi beneran lho, kamu kok bisa gemuk banget gini sih?"
Saya: "Iya nih, Dok.. Nggak tau juga kenapa, hehehe.." (ketawa pasrah)
Teman-teman sekalian, sesungguhnya saya tidak tahu apa saya memang segemuk dan sebulet itu, sampe banyak sekali orang yang bilang saya gemukan. Percakapan yang di atas baru secuplik dari sekian banyak orang lain yang bilang hal yang serupa (pacar saya kayaknya yang paling sering kedua, setelah papa dan mama saya). Tapi setelah percakapan dengan dosen saya itu, saya merasa, mungkin ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk menurunkan berat badan saya. Memang, angka di timbangan belum sampe bombastis banget sih, tapi kenaikannya sudah cukup signifikan lah.. Sejujurnya, saya termasuk orang yang beranggapan bahwa, untuk jadi seorang perempuan yang cantik tidak dibutuhkan badan yang kurus ceking. Makanya selama ini (yah at least sampai saat ini) saya tidak pernah berdiet. Ikut nge-gym pernah, tapi untuk semata-mata membuat badan lebih sehat.
Sooo... Mengingat besok adalah hari pertama puasa, saya dan 3 orang teman sudah berjanji untuk ikutan berpuasa. Bukan 100% puasa sih, tapi puasa karbohidrat saja :) dan tentu saja, makanan yang manis2 dilarang juga yah (kopi, es teh manis, biskuit, kue, dll). Doakan semoga berhasil yah dietnya hehehe..
Ps: Untuk semua orang yang sudah bilang saya gemukan, saya ucapkan terima kasih. Saya menganggapnya sebagai bentuk kepedulian kalian kepada saya dan bentuk motivasi bagi saya untuk bisa memiliki tubuh yang lebih sehat (dan singset tentunya hihihihi)..
Salam,
natalie_ijonk
Mama mertua dari kakak laki-laki saya (MMKLS) :" Lia, kok sekarang gemuk amat nih.."
Saya :" Hehehe.. Iya nih, Tante. Lagi liburan sih.." (sambil tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Kurusin dong. Tuh liat si cici (kakak perempuan saya), biarin anaknya udah dua, tapi badan tetep jadi.."
Saya: "Hehehe.." (masih tersenyum-senyum meringis)
MMKLS :" Yah.. Kasih deh 5 kg-nya ke si koko (kakak laki-laki saya memang dilahirkan dan ditakdirkan kurus), biar dia gemukan dikit.."
Saya: "Hehehe.."
9 Agustus 2009, pembicaraan telepon antara kakak perempuan dengan mama saya.
Kakak: "Ma, bilangin tuh si Lia, jangan makan mulu. Udah gemuk gitu.."
Mama: "Ah, dia emang makan mulu. Susah kalo dibilangin.."
Kakak: "Iya sih.. Tapi dia sekarang udah bulet banget lho. Nanti susah cari baju."
10 Agustus 2009, ketika membukakan pintu untuk mbak saya yang baru balik dari kampungnya.
Ibu Gina (nama mbak saya): "Asalamualaikum, Non."
Saya: "Walaikumsalam, Bu. Sehat-sehat nih?"
Ibu Gina: "Alhamdulilah, Non. Non juga kayaknya subur banget nih, Non?"
Saya: "Hah?"
Ibu Gina: "Gemukan, Non, maksudnya.."
Saya: "Hehehe.." (ketawa pasrah)
21 Agustus 2009, seusai menghadiri acara seminar di kampus. Pas mau keluar ruangan, eh berpapasan dengan salah satu dosen saya yang dulu mengajar Psikologi Faal, yang juga adalah seorang dokter.
Saya: "Halo, Dok."
Pak Dosen: "Eh, kamu. Gemuk amat nih sekarang?"
Saya: "Hehehe.. Dokter juga gemukan nih kayaknya?"
Pak Dosen: "Kalo dosen gemukan mah biasa.. Tapi beneran lho, kamu kok bisa gemuk banget gini sih?"
Saya: "Iya nih, Dok.. Nggak tau juga kenapa, hehehe.." (ketawa pasrah)
Teman-teman sekalian, sesungguhnya saya tidak tahu apa saya memang segemuk dan sebulet itu, sampe banyak sekali orang yang bilang saya gemukan. Percakapan yang di atas baru secuplik dari sekian banyak orang lain yang bilang hal yang serupa (pacar saya kayaknya yang paling sering kedua, setelah papa dan mama saya). Tapi setelah percakapan dengan dosen saya itu, saya merasa, mungkin ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk menurunkan berat badan saya. Memang, angka di timbangan belum sampe bombastis banget sih, tapi kenaikannya sudah cukup signifikan lah.. Sejujurnya, saya termasuk orang yang beranggapan bahwa, untuk jadi seorang perempuan yang cantik tidak dibutuhkan badan yang kurus ceking. Makanya selama ini (yah at least sampai saat ini) saya tidak pernah berdiet. Ikut nge-gym pernah, tapi untuk semata-mata membuat badan lebih sehat.
Sooo... Mengingat besok adalah hari pertama puasa, saya dan 3 orang teman sudah berjanji untuk ikutan berpuasa. Bukan 100% puasa sih, tapi puasa karbohidrat saja :) dan tentu saja, makanan yang manis2 dilarang juga yah (kopi, es teh manis, biskuit, kue, dll). Doakan semoga berhasil yah dietnya hehehe..
Ps: Untuk semua orang yang sudah bilang saya gemukan, saya ucapkan terima kasih. Saya menganggapnya sebagai bentuk kepedulian kalian kepada saya dan bentuk motivasi bagi saya untuk bisa memiliki tubuh yang lebih sehat (dan singset tentunya hihihihi)..
Salam,
natalie_ijonk
Friday, August 14, 2009
some 'wise' words..
Tepat 2 hari yang lalu, mama saya memberikan sebuah buku yang berisi kata-kata mutiara dari bahasa mandarin yang telah di-translate ke bahasa indonesia.
Mama: " Lia, ini buku bagus nih, isinya kata-kata mutiara.."
Saya: "Oh ya? U dapet dari mana?"
Mama: " Enak aja dapet, mama beli, tau!"
Saya: "Ohh.. Tumben, hihihi.."
(Melalui percakapan ini, saya menarik kesimpulan, mungkin si mama menyuruh saya baca buku ini karena merasa sudah harus mengeluarkan uang untuk membelinya, alias nggak rela kalo buku itu dianggurin ;p)
So, malam harinya saya bawa buku itu ke kamar, dan saya letakkan begitu aja di atas meja tanpa saya buka satu halaman pun. Nah, kemarin siang, saya lagi nggak ada kerjaan, nunggu dijemput pacar. Daripada bengong, saya memutuskan untuk melihat-lihat buku ini. Saya main asal buka aja, karena niatnya cuman mau 'lihat-lihat' bukan baca sungguhan hehe.. Eh, pas saya buka, saya cukup dikagetkan dengan salah satu artikel yang judulnya : DI RUMAH TUKANG MASAK YANG BAIK, KELUAR WANITA YANG ANGGUN, DI ATAS RANJANG WANITA YANG JALANG. What the.. ??!! Akhirnya, karena merasa tertarik dengan judulnya yang agak2 ajaib itu, saya memutuskan untuk membaca lebih lanjut.. Ternyata, artikel ini berisi wajangan mengenai bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga, yang kalau boleh saya kutip, "Faktor utama keharmonisan suami istri sangat tergantung pada kejujuran, kesetiaan, kerajinan, kebijaksanaan sang istri." Hmm..
Berikut ini merupakan 3 kemampuan yang harus dimiliki istri untuk dapat menjaga keharmonisan rumah tangga:
1. Sang istri harus pandai memasak (kata buku tersebut, selain untuk alasan penghematan & kebersihan makanan, juga untuk dapat menyajikan makanan yang sesuai selera suami, dan untuk membuat suami menjadi lebih suka dan lebih sayang kepada istri.)
2. Sang istri harus berpenampilan rapi, anggun, enak dipandang mata.
3. Sang istri harus pandai merayu, memuaskan hasrat, dan kebutuhan biologis suaminya dengan menggunakan berbagai cara dan variasi untuk menyenangkan pujaan hatinya.
Pas saya selesai membaca artikel ini, saya cuma bisa berkata, " MAKSUD LOE???!!!"

Jadi kalo rumah tangga itu nggak harmonis, semata-mata salah istrinya, gitu?? Karena masakannya kurang enak, kurang bisa berpenampilan menarik, atau kurang hot di ranjang??? Terus, di mana peran suami dalam menjaga keharmonisan rumah tangga??
Saya tidak bermaksud mendiskreditkan pengarang buku tersebut, atau bilang bahwa kata-kata mutiaranya salah.. No offense. Tapi coba deh, kita pikir lagi. Rumah tangga itu kan dibangun bersama oleh suami dan istri. Jadi, mestinya yang bertanggung jawab atas keharmonisan rumah tangga itu ya dua-duanya dooonngggg, masa cuman si istri aja? Aduh, aduh, kasian amat sih istri-istri ini..
Nggak heran sih, dalam kajian literatur ilmiah pun, dikatakan bahwa pernikahan itu lebih menguntungkan pihak laki-laki daripada perempuan. Kenapa? Karena ada yang ngurusin lahir batin. Nah, tinggal perempuannya yang kerepotan. Ngurusin suami, ngurusin anak, ngurusin rumah, ngurusin pekerjaan (kalau istrinya bekerja). Siapa bilang ibu rumah tangga itu tidak bekerja? Ya pekerjaannya mengurus rumah tangga itu..
Tiga kriteria suami yang baik (versi saya):
1. Suami harus mau membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
2. Suami harus loyal kepada istri (artinya, kalau istrinya mau beli tas Chanel, ya relakan saja kartu kreditmu hihihi).
3. Suami harus mau memperhatikan kebutuhan istrinya, jangan kebutuhan dirinya saja! Artinya, jangan hanya mau dilayani saja, tapi juga mau melayani..

Mama: " Lia, ini buku bagus nih, isinya kata-kata mutiara.."
Saya: "Oh ya? U dapet dari mana?"
Mama: " Enak aja dapet, mama beli, tau!"
Saya: "Ohh.. Tumben, hihihi.."
(Melalui percakapan ini, saya menarik kesimpulan, mungkin si mama menyuruh saya baca buku ini karena merasa sudah harus mengeluarkan uang untuk membelinya, alias nggak rela kalo buku itu dianggurin ;p)
So, malam harinya saya bawa buku itu ke kamar, dan saya letakkan begitu aja di atas meja tanpa saya buka satu halaman pun. Nah, kemarin siang, saya lagi nggak ada kerjaan, nunggu dijemput pacar. Daripada bengong, saya memutuskan untuk melihat-lihat buku ini. Saya main asal buka aja, karena niatnya cuman mau 'lihat-lihat' bukan baca sungguhan hehe.. Eh, pas saya buka, saya cukup dikagetkan dengan salah satu artikel yang judulnya : DI RUMAH TUKANG MASAK YANG BAIK, KELUAR WANITA YANG ANGGUN, DI ATAS RANJANG WANITA YANG JALANG. What the.. ??!! Akhirnya, karena merasa tertarik dengan judulnya yang agak2 ajaib itu, saya memutuskan untuk membaca lebih lanjut.. Ternyata, artikel ini berisi wajangan mengenai bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga, yang kalau boleh saya kutip, "Faktor utama keharmonisan suami istri sangat tergantung pada kejujuran, kesetiaan, kerajinan, kebijaksanaan sang istri." Hmm..
Berikut ini merupakan 3 kemampuan yang harus dimiliki istri untuk dapat menjaga keharmonisan rumah tangga:
1. Sang istri harus pandai memasak (kata buku tersebut, selain untuk alasan penghematan & kebersihan makanan, juga untuk dapat menyajikan makanan yang sesuai selera suami, dan untuk membuat suami menjadi lebih suka dan lebih sayang kepada istri.)
2. Sang istri harus berpenampilan rapi, anggun, enak dipandang mata.
3. Sang istri harus pandai merayu, memuaskan hasrat, dan kebutuhan biologis suaminya dengan menggunakan berbagai cara dan variasi untuk menyenangkan pujaan hatinya.
Pas saya selesai membaca artikel ini, saya cuma bisa berkata, " MAKSUD LOE???!!!"

Jadi kalo rumah tangga itu nggak harmonis, semata-mata salah istrinya, gitu?? Karena masakannya kurang enak, kurang bisa berpenampilan menarik, atau kurang hot di ranjang??? Terus, di mana peran suami dalam menjaga keharmonisan rumah tangga??
Saya tidak bermaksud mendiskreditkan pengarang buku tersebut, atau bilang bahwa kata-kata mutiaranya salah.. No offense. Tapi coba deh, kita pikir lagi. Rumah tangga itu kan dibangun bersama oleh suami dan istri. Jadi, mestinya yang bertanggung jawab atas keharmonisan rumah tangga itu ya dua-duanya dooonngggg, masa cuman si istri aja? Aduh, aduh, kasian amat sih istri-istri ini..
Nggak heran sih, dalam kajian literatur ilmiah pun, dikatakan bahwa pernikahan itu lebih menguntungkan pihak laki-laki daripada perempuan. Kenapa? Karena ada yang ngurusin lahir batin. Nah, tinggal perempuannya yang kerepotan. Ngurusin suami, ngurusin anak, ngurusin rumah, ngurusin pekerjaan (kalau istrinya bekerja). Siapa bilang ibu rumah tangga itu tidak bekerja? Ya pekerjaannya mengurus rumah tangga itu..
Tiga kriteria suami yang baik (versi saya):
1. Suami harus mau membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
2. Suami harus loyal kepada istri (artinya, kalau istrinya mau beli tas Chanel, ya relakan saja kartu kreditmu hihihi).
3. Suami harus mau memperhatikan kebutuhan istrinya, jangan kebutuhan dirinya saja! Artinya, jangan hanya mau dilayani saja, tapi juga mau melayani..

natalie_ijonk
Thursday, August 13, 2009
mental breakdown
Kenapa yah belakangan ini banyak artis2 yang mengalami mental breakdown?? Saya nggak tau definisi ilmiahnya sih, tapi kalo boleh dibilang dengan gamblang, mereka tiba2 jadi seperti orang gila. Ehm, crazy is a pretty strong word, tapi kayaknya cukup mewakili perilaku mereka yang aneh2 itu sih.. Dulu kita semua tau ada artis hollywood berinisial BS yang cukup lama menjadi headline dunia hiburan karena ulahnya yang macem2 itu. Baru2 ini ada lagi artis hollywood berinisial MB yang kabarnya masuk rumah sakit karena alasan psikis. Well well, artis indonesia juga nggak mau kalah dong. Baru 2 hari yang lalu saya iseng2 liat youtube (taunya juga dari teman melalui facebook), katanya ada artis berinisial M yang bikin video aneh. Karena penasaran dengan teman saya yang ngabarin di facebook, saya segera lihat youtube. Dan ternyata memang videonya aneh. Lebih tepatnya, attention-seeking banget. Masa merekam diri sendiri lagi nangis2 terus di-upload di internet? Buat apa coba..
Entah kenapa, pas ngeliat video itu, saya lalu bertanya2, apa orang ini sedang mengalami indikasi mental breakdown juga yah? Dan entah kenapa juga, saya yakin bahwa jawabannya iya hahahaha call me cruel, call me evil ;p Apalagi pas saya melihat video2 berikutnya, yang isinya M sedang nyanyi2 trus ngata2in teman2 SD nya yang katanya dulu jahatin dia sambil ketawa menggila gitu, dalam hati saya bilang, wah ini sih indikasi bipolar disorder nih.. Abis nangis2 terus ketawa2, nari2, ngata2in orang.. Mohon dimaklumin yah, saya adalah psychologist-wanna-be, jadi ada kecenderungan melihat orang melalui kacamata teori2 psikologi, apalagi kalo perilakunya udah menjurus ke abnormalitas hihihihi..
Sebenernya kalo mau lebih jeli melihat orang2 di sekitar kita, banyak juga orang biasa yang mengalami mental breakdown. Cuma, kadang tidak terdeteksi, karena pihak keluarga pasti berusaha menutupi2.. Sekarang ini tahun 2009, tapi kalo mau ngomongin orang2 dengan gangguan jiwa, kayaknya nggak beda jauh deh sama jaman dulu. Orang2 yang mengalami gangguan jiwa pasti udah keburu dicap negatif dulu, sampe2 pihak keluarga memandangnya sebagai aib. Dikucilin, ditelantarkan di rumah, dikurung, atau dikirim ke desa biar nggak ada yang tau.. Aneh yah, orang bisa dengan santai bilang, "Suami saya kena stroke", tapi mana bisa bilang "Suami saya kena skizofrenia?" Mungkin ini juga yang memotivasi saya untuk menjadi psikolog klinis. Saya terbeban dengan mereka2 ini, orang2 yang ketika sudah didiagnosis menderita gangguan tertentu, biasanya akan 'dibuang'. Apakah kita nggak sadar bahwa mereka ini, meskipun memiliki embel2 gangguan kejiwaan, tetap manusia? Punya hati, punya perasaan..
Dan lagi, diagnosa ini bukan harga mati kok. Dalam artian, meskipun menderita gangguan kejiwaan, mereka sebenarnya tetap bisa berkarya asal masyarakat mau sama2 memfasilitasi. Buktinya, Robert Schumann, salah satu pianis terbesar zaman romantik, adalah salah satu penderita bipolar disorder. Tapi justru di saat2 dia mengalami perubahan mood yang ekstrem itu lah, karya2nya dihasilkan..
Salam,
natalie_ijonk
Entah kenapa, pas ngeliat video itu, saya lalu bertanya2, apa orang ini sedang mengalami indikasi mental breakdown juga yah? Dan entah kenapa juga, saya yakin bahwa jawabannya iya hahahaha call me cruel, call me evil ;p Apalagi pas saya melihat video2 berikutnya, yang isinya M sedang nyanyi2 trus ngata2in teman2 SD nya yang katanya dulu jahatin dia sambil ketawa menggila gitu, dalam hati saya bilang, wah ini sih indikasi bipolar disorder nih.. Abis nangis2 terus ketawa2, nari2, ngata2in orang.. Mohon dimaklumin yah, saya adalah psychologist-wanna-be, jadi ada kecenderungan melihat orang melalui kacamata teori2 psikologi, apalagi kalo perilakunya udah menjurus ke abnormalitas hihihihi..
Sebenernya kalo mau lebih jeli melihat orang2 di sekitar kita, banyak juga orang biasa yang mengalami mental breakdown. Cuma, kadang tidak terdeteksi, karena pihak keluarga pasti berusaha menutupi2.. Sekarang ini tahun 2009, tapi kalo mau ngomongin orang2 dengan gangguan jiwa, kayaknya nggak beda jauh deh sama jaman dulu. Orang2 yang mengalami gangguan jiwa pasti udah keburu dicap negatif dulu, sampe2 pihak keluarga memandangnya sebagai aib. Dikucilin, ditelantarkan di rumah, dikurung, atau dikirim ke desa biar nggak ada yang tau.. Aneh yah, orang bisa dengan santai bilang, "Suami saya kena stroke", tapi mana bisa bilang "Suami saya kena skizofrenia?" Mungkin ini juga yang memotivasi saya untuk menjadi psikolog klinis. Saya terbeban dengan mereka2 ini, orang2 yang ketika sudah didiagnosis menderita gangguan tertentu, biasanya akan 'dibuang'. Apakah kita nggak sadar bahwa mereka ini, meskipun memiliki embel2 gangguan kejiwaan, tetap manusia? Punya hati, punya perasaan..
Dan lagi, diagnosa ini bukan harga mati kok. Dalam artian, meskipun menderita gangguan kejiwaan, mereka sebenarnya tetap bisa berkarya asal masyarakat mau sama2 memfasilitasi. Buktinya, Robert Schumann, salah satu pianis terbesar zaman romantik, adalah salah satu penderita bipolar disorder. Tapi justru di saat2 dia mengalami perubahan mood yang ekstrem itu lah, karya2nya dihasilkan..
Salam,
natalie_ijonk
Subscribe to:
Posts (Atom)