Sunday, April 10, 2011
After a few months...
It’s been a while since I wrote this blog the last time.. A couple of months actually hahaha.. So, today’s Sunday. I’m all alone at home. My dad is out of town, my mom goes to Ancol to have some exercise. Jadi ya saya luntang-lantung sendirian di rumah.. Agenda utama yang harus dikerjakan hari ini adalah: BERESIN KAMAR. It really a must!! Baju dan tas berserakan dimana-mana, majalah dan novel juga, sampe-sampe saya udah nggak bisa menggunakan meja saya karena tertutup tumpukan buku-majalah-brosur-warta gereja-dll.. Agenda yang kedua adalah: GUNTING PONI. Ha! Poni saya ini udah nggak jelas bentuknya, mencuat di bagian samping, dan saking panjangnya udah nyaris nutupin mata.. Begini deh sekarang hari Minggu saya, dipenuhi dengan agenda yang nggak bisa dilakukan di hari kerja. Sejak masuk kerja per Januari tahun ini, saya ‘seolah-olah punya alasan’ untuk menunda hal-hal yang saya ‘nggak terlalu suka-tapi harus dikerjakan’, such as masukkin baju-baju ke lemari, beresin lagi tas sehabis dipake, beresin ranjang, nyapu-pel kamar, beresin pernak-pernik, beresin DVD, masukkin lagi laptop ke tasnya sehabis dipake, dll. Small things, tapi entah kenapa maaaallllleeesss buanged ngerjainnya.. Ketauan deh malesnya! Wkwkwkwk (tapi banyak orang bilang saya itu rajin dan rapih lhhooo ;p hihihi)
Anyway, do you guys know that I actually supposed to wear glasses? Mata kanan -1.75, mata kiri normal. Sebenernya udah dari beberapa tahun yang lalu saya mesti pake kacamata, cuma ya karena bandel, nggak kunjung dipake sampe hari ini hehehe =b Nah beberapa hari ini, mulai kumat-lah mata saya ini. Agak-agak burem gitu kalo liat jauh, dan mulai agak-agak mengganggu.. Jadilah sekarang saya kudu bawa-bawa kacamata kemana-mana, huh.. Mau nggak mau deh..
Sebenernya setelah lama banget nggak nulis disini, ada begitu banyak cerita yang ingin saya tuangkan. Cuma karena udah kelamaan, jadi kayaknya udah keburu basi hihihi.. Kalau mau dirangkum, ada beberapa poin penting dalam hidup saya lately.
Yang pertama, saya mulai les piano lagi. Wwhoooaa saya senang banget, akhirnya berhasil mengalahkan rasa malas, segan, dan keragu-raguan yang selama ini menghalangi saya untuk kembali belajar piano. Memang nggak mudah, karena setelah nggak latihan rutin selama hampir 3 tahun, rasanya berat banget untuk mulai latihan lagi. Jari-jari kayaknya udah terlalu gendud dan terserang virus males gerak, jadi lambat dan nggak terampil. Tapi ya dengan segenap niat, HARUS LATIHAN LAGI..!! My first songs : Liszt’s Un Sospiro dan Schubert’s Sonata Op. 120. Love it!
Yang kedua, saya mulai ke gereja lagi. Bukan berarti saya nggak pernah ke gereja lho. Dulu saya sempet rutin ke gereja, dan ikut komsel. Tapi belakangan merasa terlalu jauh ke gereja (di daerah Gunung sari, sementara rumah saya di daerah Tanjung Duren), jadi sempet struggling to find a new church. Cari cari cari, ketemu juga gereja di deket rumah yang quite ok. Jadinya sekarang mulai ibadah rutin di gereja itu. Doakan dalam beberapa bulan ke depan bisa terus tertanam dan aktif di gereja tsb =)
Yang ketiga, I finally start to get used to my new routine at work. Dulu bulan-bulan pertama, menderita banget.. As a new person, mau ngapain juga kayaknya kikuk, belum kenal siapa-siapa, nggak tau mau makan siang sama siapa, mau ngobrol sama siapa, dll. Tapi sekarang udah bisa mulai enjoy =) Hore! Hahaha.. Agak-agak nggak nyangka sih, karena dulu saya pernah bilang sama diri saya sendiri, saya nggak akan kerja kantoran. Saya nggak suka kerja kantoran. I want to become a teacher. I want to become a psychologist. I want to get involved in people’s life, bukan melakukan tugas-tugas rutin-administratif di kantor. Cuma, setelah dijalani, thank God, ada begitu banyak hal yang dapat saya pelajari. Nggak menyesal nih ceritanya, wkwkwk
OK, sekarang saatnya kembali ke agenda semula. Beresin kamar dan gunting poni =b
See you guys in my next posting... Ciaoo =D
Tuesday, November 23, 2010
About finding a job..
Pada kenyataannya, memilih pekerjaan nggak semudah yang dibayangkan. Dulu waktu kecil, kalau ditanya nanti udah gede mau jadi apa, dengan mudahnya kita jawab, “Mau jadi dokter/pilot/astronot”. Pas udah mau kuliah, cita-cita itu disaring lagi, mampu nggak sekolah untuk jadi dokter atau astronot ?? Ya mampu otaknya, ya mampu dananya.. Apa jurusan pilihan saya mendapat dukungan orang tua?? Pas udah lulus kuliah trus mau cari kerja, cita-cita itu lagi-lagi disaring.. Kalau jadi dokter atau astronot, cukup nggak penghasilannya untuk membiayai hidup saya?? Bagaimana prospeknya di job market saat ini?? Apa mau menetap dengan profesi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, atau explore profesi lainnya yang lebih sesuai hobi atau passion kita?? Apa pekerjaan itu membuat saya bahagia dan puas?? Apa saya harus memprioritaskan gaji yang besar atau pengalaman kerja yang baik?? Well, well, like I said, it’s not that easy, right...
Bagaimana dengan saya sendiri?? Sampai saat ini udah ada beberapa lamaran yang direspon dengan panggilan untuk psikotes dan interview (thank God hehehe).. Mungkin karena baru pengalaman pertama interview kerja kali yah, jadi berasanya agak2 horor, bingung, tapi juga excited =b The funny thing is, when you’re being interviewed you try to show your best qualities. I’m highly motivated person, I’m a team work person, I can work under pressure, blablabla.. Bagaimana dengan kekurangan kita?? dikubur sedalam-dalamnya biar nggak ada yang tau.. Off course, dalam prakteknya, saya juga melakukan itu. I did try to impress them. I did. But, the most important thing is, jangan sampe kita menjadi orang lain dalam wawancara tersebut. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kita tepati. Jangan membual. Focus on our positive quality, but don’t make a lie about it. Just be yourself.. Tell them the truth about your hopes and motivations, apa yang ingin dicapai, apa yang kita inginkan dari perusahaan tersebut. You know, I know zero about job world. I barely have any experience in this world. But one thing I know for sure, I want to work for a company that can accept me for who I am =)
Well, dengan segala kebingungan dan kehororan menghadapi proses interview kerja, I must say that I do enjpy some of it. I like the part where your ability is being tested. And also I like the part where the questions they gave can make you realize more of who you really are. Eerr..I just hope, semoga segala sesuatu berjalan lancer =) Amin..
P.S.: untuk teman-teman psikologi yang lagi asyik ngelamar2 juga, selamat berjuang, teman!!
Thursday, October 28, 2010
Setelah semua itu berakhir...
Semua itu apa? Semua kerja keras keras, ketar-ketir, dan perjuangan selama pembuatan skripsi =) Jadi tepat hari Rabu tanggal 20 Oktober 2010, saya dinyatakan lulus sidang skripsi. Memang belum yudisium, yang berarti belum sah menyandang gelar sarjana, tapi pas penguji bilang,”Anda dinyatakan lulus..”, rasanya ada beban 1000kg diangkat dari pundak ini (oke, sedikit lebai hehehe). Jadi sekarang tinggal fokus mengerjakan revisi (yang segambreng), dan minta tanda tangan panitia ujian untuk mengesahkan skripsi saya. Sungguh kerja keras yang berbuah manis, ahhh...
Dari sekian ribu kata-kata yang saya tulis di dalam skripsi saya, ada satu kalimat yang sungguh mengena untuk saya. Kata-kata tersebut ditulis di bagian kata pengantar (yang biasanya tidak dibaca orang) dan berbunyi “Seluruh skripsi ini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis” . Delapan kata yang mengandung makna yang sangat dalam, bahwa segala sesuatu yang ditulis di dalam skripsi tersebut harus dapat saya pertanggung jawabkan secara ilmiah. Bahwa kalo ditanya, “Kenapa pake teori A, bukan teori B aja?”, kita nggak bisa jawab “Karena disuruh pembimbing” atau “Karena saya cuman taunya yang itu, Pak/Bu.” Kenapa mengena? Karena kata-kata tersebut seringkali terlupakan begitu saja, dan dalam proses pembuatannya pun, kita seringkali asal pake teori ini, asal pake metode ini, yang penting mudah dan cepat selesai. Nah, tinggal pas sidang kebingungan deh cari ‘alasan ilmiah’-nya hehehe...
Dan ini adalah tampang-tampang bahagia setelah dinyatakan lulus..
Tuesday, October 5, 2010
I say..
Sunday, October 3, 2010
unique or weird??
Kata orang, setiap dari kita adalah ciptaan yang unik. Each of us has our own characteristic that makes us different from other people. For example, me. Saya punya beberapa kebiasaan, yang mungkin akan terdengar aneh atau bahkan sulit dimengerti oleh orang lain.
My number 1 (and the most ultimate) weird habit is not actually habit. It’s more like a trait, I think. Saya adalah orang yang moody. Moody dalam kasus saya bukan berarti mood saya sering berubah-ubah oleh berbagai peristiwa yang terjadi sehari-hari. Mood saya hanya dipengaruhi oleh cuaca. Kalau pagi-pagi saya bangun tidur dan langit sudah gelap, seketika itu juga semangat saya untuk menjalani hari tersebut turun begitu saja. Saya menjadi ogah-ogahan, tidak bersemangat, dan merasa tidak ada harapan lagi (ah lebaiii hahaha). Sebaliknya, kalau pagi-pagi saya sudah ‘disambut’ dengan teriknya sinar matahari, rasanya hari menjadi lebih ringan, dan pastinya muncul semangat yang positif untuk menjalani hari tersebut.
I love sunshine. I hate rain. Rain ruins my perfect day.
Dulu (sekarang sih sudah tidak pernah lagi hehehe) saya bahkan pernah meng-cancel murid saya untuk les piano karena di luar sedang turun hujan. Ajaib, eh? Kadang-kadang saya merasa pengaruh hujan dalam diri saya sungguh hebat, sampai-sampai membuat saya menunda pekerjaan, tidak keluar rumah seharian, seolah-olah ‘awan kesuraman’ meliputi diri saya sepenuhnya. Seperti sekarang ini, tadinya saya berencana untuk menyiapkan slide power point untuk presentasi sidang skripsi saya, tapi karena sedang turun hujan, batal sudah rencana tersebut (bukan karena males lho hehehe).
Sebenarnya saya tidak pernah berpikir bahwa hal ini merupakan sesuatu yang ‘aneh’ atau setidaknya ‘tidak biasa’, karena sebenarnya kalau kita mau mencari alasan logisnya, hal ini cukup masuk akal. Pertama, kalau hujan pasti becek, dan bisa membuat sepatu menjadi kotor. Belum lagi, kendaraan saya sehari-hari adalah angkot. Hai pengguna angkot di luar sana, kalian pasti setuju dengan saya, ribet banget kan kalau harus naik turun bus kota pas turun hujan??!! Harus basah-basahan, kena ciprat sama pengendara yang agak kurang aware dengan sekitar, jalan juga mesti hati-hati karena takut kepleset, belum lagi kalau angkotnya ‘hujan’ juga (alias bocor).. Kedua, hujan membuat barang bawaan saya menjadi tambah banyak. Bawa payung, kadang bawa jaket (karena kalau hujan udara menjadi agak dingin), bawa sandal jepit (karena nggak rela warna sepatunya jadi serupa dengan warna tanah), dll.
Tapi kemudian saya berpikir lagi, musim hujan di Indonesia hampir 6 bulan lamanya, dan selama itu pula apa jadinya mood saya?? Masa harus merasa down setiap hari? Lagipula, saya terlahir di negeri tropis ini, berarti sudah 22 tahun saya mengalami musim hujan. Mestinya saya sudah terbiasa dengan hujan, right??
Every person is unique in their own way. But in my case, maybe I am a weirdo hahahaha =b
Salam,
natalie_ijonk
Thursday, September 30, 2010
kacang lupa kulitnya
Ceritanya, karena masa-masa persiapan menuju ujian interview tersebut sungguh melelahkan dan menguras tenaga, jadi-lah ketika saya sudah lulus, saya ‘balas dendam’. Ha! Saya stop dulu main piano, dan leha-leha hahaha =b Artinya, kalau dulu menghabiskan berjam-jam di depan piano, sekarang waktu yang berjam-jam tersebut saya gunakan untuk hal lain, misalnya untuk ke mal, jalan-jalan, baca novel, nonton dvd, dll. Pokoknya, piano saya lupakan dulu sejenak. Nggak terasa, sudah hampir 10 bulan lamanya saya ‘meninggalkan’ piano saya. Ya ada sih, beberapa kali main, itu pun cuma ingin mencoba lagu-lagu yang hendak diberikan kepada murid. Nggak ada yang bener-bener belajar lagu baru yang level kesulitannya ‘cukup sulit’.
Nah, kemarin saya menemukan ‘titik balik’ saya. Jadi, kemarin saya ‘bertandang’ ke ruangan sebelah (di sekolah musik saya, ruang kelas dibagi menjadi beberapa ruangan kecil yang saling bersebelahan). Kita sebut saja teman saya sebagai Ibu P. Ibu P ini sedang mengajar seorang murid yang memang sudah terkenal sebagai anak berbakat di sekolah musik saya. Ibu P berkata, “ Sini Nat, liat murid gua main. Anaknya musikal banget.” Waktu itu ia memainkan Nocturne(lupa nomornya) karya musisi Prancis, Poulenc. Lagunya sangat manis dan mengalun, karena memang anak tersebut membawakannya dengan sangat musikal. Ckckckck padahal anaknya baru usia SMA! Dalam hati, perasaan dulu pas gua SMA, kaga pernah deh dikasih lagu yang manis begitu. Selalu dikasihnya lagu yang berisik gonjrang-gonjreng, soalnya gua selalu dikomennya, “Mana feeling-nya? Ini mainnya kurang pembawaan!” Saking seringnya gua dibilang begitu, sampe gua pengen jawabin, “Emang feeling berapa duit sekilo??”.
So, sepulang dari ngajar, saya dipenuhi dengan semangat baru untuk main piano kembali. Saya membuka koleksi lagu-lagu lama yang dulu pernah saya mainkan, misalnya seperti Impromtu op. 90 no. 2 karya Schubert. I used to play this song a long time ago, maybe when I was in junior high school. Setelah mencoba-coba main kembali, ehh kok ngggak bisa?! Uuurrggh!! I’m totally frustrated. I know thing song, and I can (usually) play this song. But it turns out that I cannot play it any longer. Pada saat itu lah, saya mikir.. Saya ini kacang yang lupa akan kulitnya. Mentang-mentang udah jadi guru, bukan berarti stop latihan kan? Malah mestinya kita terus 'up grade' teknik permainan kita, biar nggak kalah sama murid-murid kita hehehe..
The lesson for today: terus berlatih (dan menjadi semakin baik)!! =)
Tuesday, September 28, 2010
my next step
Hello, bloggies! =b
Sudah lama juga tidak menulis di blog ini lagi… Belakangan ini, kesibukkan saya masih seputar kampus, lebih tepatnya dalam menyelesaikan skripsi saya. Rencananya, dalam 3 minggu ke depan, saya akan segera sidang skripsi. Mohon doanya biar sidangnya lancar, sukses, dan lulus yahhhhhhh… Padahal saya bukan termasuk orang yang pencemas, tapi entah mengapa kalau sudah menyangkut masalah ujian (terutama ujian lisan), saya agak2 parno gimana gittuuu.. Untungnya, saya mendaftar sidang skripsi ini bareng-bareng dengan my best friend, NM, sehingga agak2 berkurang deh kecemasannya. Semoga kita bisa lulus bareng yah temannnnn =) AMIN!
Btw.. Selain ngejelimet dengan urusan skripsi, pikiran saya belakangan ini lagi ‘dihantui’ oleh satu pertanyaan besar, yang biasanya hinggap pada orang-orang yang baru lulus : MAU NGAPAIN ABIS LULUS? Meskipun saya sekarang belum lulus, yahhh anggap saja saya cukup pede untuk mengatakan bahwa saya yakin lulus hehehe.. Sebenarnya saya tahu, jawaban normalnya cuma satu : KERJA. Atau, bagi sebagian perempuan, jawabannya : MENIKAH. Atau, ada lagi pilihan jawaban ketiga : NGANGGUR hihihihi ;p Tapi, sudah pasti, saya akan memilih jawaban yang pertama. Nah masalahnya, muncul lagi pertanyaan berikutnya : KERJA APA? Teman-teman saya yang baru lulus mayoritas bekerja di perusahaan sebagai HRD. Sebenernya pun, saat ini saya sudah magang di sebuah perusahaan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Hanya sajaaaaaa… Saya tidak terlalu suka tipe pekerjaan rutin di belakang meja. Saya adalah ‘orang lapangan’. Saya suka bersentuhan langsung dengan orang-orang, dengan sumber masalahnya.
Sebagaimana yang telah saya tulis dalam entry sebelumnya, sejak satu tahun yang lalu saya sudah bekerja sebagai guru musik di salah satu tempat kursus musik di Jakarta. Saya mengajar praktek piano dan kelas teori musik untuk anak-anak. Kontrak pertama saya berakhir bulan Desember tahun ini, sehingga saya pun kembali bertanya-tanya : MAU PERPANJANG KONTRAK NGAJAR APA NGGAK? Sebenarnya bisa saja saya mengajar full-time, gajinya pun lumayan (kalau dibandingkan dengan gaji fresh graduate). Tapi konsekuensinya, saya menyia-nyiakan gelar sarjana saya… Sungguh dilematis! Saya punya satu teman lulusan psikologi yang sampai saat ini hanya bekerja sebagai guru les anak-anak SD. Mirisnya, kebanyakan orang akan memandang bahwa dia ‘tidak kerja’ atau ‘belum kerja’, melainkan ‘hanya ngajar’. Seolah-olah, mengajar itu bukan pekerjaan. Atau, apakah definisi bekerja yang sebenarnya adalah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan kita???
Mengenai pilihan jawaban yang kedua, yaitu menikah, sama sekali belum terpikir oleh saya untuk menikah dalam usia saya yang (menurut saya) masih sangat muda. Memang sudah ada beberapa teman yang telah menikah (dan saya sungguh menghargai pilihan mereka, juga mendoakan agar mereka bisa hidup bahagia), namun saya berpendapat bahwa : belum saatnya settle down di usia 20-an. Saya masih ingin merasakan hidup. Saya masih ingin jumpalitan cari duit biar bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya yang belum sempat direalisasikan. Saya masih ingin hidup bebas...
Salam,
natalie_ijonk
