Friday, July 9, 2010

cerita tentang si tompel















Haiiii semua =)

Sudah lama tidak bersua hehe.. Di entry kali ini saya cuma ingin meng-info-kan bahwa saya sudah mengganti alamat blog saya menjadi www.kucingku-sitompel.blogspot.com..

Kenapa diganti? Hmmm..
Pertama, karena udah bosen sama alamat yang lama! hehe..
Kedua, ini merupakan bentuk pengabadian terakhir untuk kucing saya (alm.) yang meninggal beberapa bulan yang lalu (kayaknya sih sekitar bulan Mei deh meninggalnya).
Walaupun sebenernya si tompel adalah kucing papa saya (dan saya tidak terlalu attached dengan dia), tapi harus saya akui tompel sangat lucu (dan NDUT! hehehe). Dengan bulunya yang berwarna hitam putih belang-belang, dengan tompel hitam di hidungnya; tompel sudah bertahun-tahun menjadi 'bagian' dari hidup kita semua, dan sudah sering membawa tawa dalam hari-hari kita =) Sekarang ini tinggal anak-anak dan cucu-cucunya tompel yang masih ada. Udah nggak jelas juga yang mana anak, yang mana cucu, karena si tompel ini rajin bener melahirkan hehehe

So, selama jalan tompel.. Semoga bahagia di surga (pastinya di sana nggak ada lagi yang gangguin pas tidur, kilikin kupingnya, dll. hehehe ) =)

Tuesday, March 30, 2010

some people from the street part 2

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya suka sekali menulis tentang orang-orang yang saya temui di jalanan? Karena saya adalah anak jalanan. Not literally 'anak jalanan', tapi sudah tak terhitung lagi jumlah waktu yang saya habiskan di jalanan, sekedar untuk berpindah dari tempat A ke tempat B. Dan ‘jalanan’ yang saya maksudkan di sini adalah bukan dengan mobil atau motor pribadi, tapi dengan kendaraan angkot. Sehari-harinya, angkot adalah mobil pribadi saya. Ngajar ya naek angkot, ke kampus ya naek angkot, pokoknya tiada hari tanpa naek angkot…

Untuk kalian yang juga pengguna angkot, kalian pasti tahu bahwa orang yang paling sering ditemui, bahkan nyaris dapat ditemui setiap kali naek angkot adalah pengamen (selain bapak supir dan kenek, tentunya hehe). Sebenarnya saya tidak terganggu dengan kehadiran para pengamen ini, toh mereka hanya sekedar numpang cari uang dengan menyanyi atau membaca puisi. Yang nyebelin adalah orang-orang yang secara paksa meminta uang kita, biasanya dengan kata-kata “lebih baik saya meminta daripada saya menodong atau mencuri bapak/ibu”, atau ya langsung dengan mengeluarkan senjata tajamnya (beneran lho, pernah saya alami).

Salah satu alasan mengapa saya tidak terganggu dengan kehadiran para pengamen adalah, menurut saya, para pengamen ini cukup bermanfaat bagi saya. Bermanfaat dalam hal apa? Bermanfaat dalam mensosialisasikan hits-hits dari para band tanah air ;p hehehe Salah satu contohnya adalah si ‘pengamen ST12’. Ceritanya, beberapa waktu yang lalu, pas lagi ngetren-ngetrennya lagu Puspa milik ST12, saya naek angkot menuju daerah Sudirman. Datanglah pengamen ini, seorang laki-laki usia 20-an dengan topi dan gitarnya. Kita sebut saja A. Untuk ukuran pengamen, menurut saya A berpenampilan agak rapi, dengan jins (meskipun kumel) dan kaus berkerah putih (agak2 kumel juga). Nah, A ini menyanyikan lagu Puspa tersebut, yang pada waktu itu, saya tidak tahu bahwa lagu itu adalah sebuah hits dari band ST12 *ya ampuuuunnn, kemana ajee?? Hehehe* Tidak seperti pengamen lainnya yang menyanyi dengan ekspresi datar, atau dengan pitch control yang buruk, A cukup okelahhh. Nadanya kena, bahkan A menyanyi sambil menggoyangkan badannya mengikuti irama. Dalam hati saya, oke juga nih lagunya. Saya berpikir, lagu ini adalah ciptaan A sendiri. Sampai beberapa waktu lamanya, saya masih juga nggak engeh bahwa lagu itu milik ST12. Baru pas lagi denger radio, didendangkanlah lagu itu, dan saya berkata dalam hati, ooohhh ini lagunya ST12 toh *dong dong dongggg…* Itu baru satu contoh. Masih banyak lagu-lagu lain, misalnya lagu-nya The Virgin, Ungu, dll. (Harusnya band-band itu bayar komisi yah ke para pengamen karena turut mensosialisasikan lagunya hahahaha ;p)

Alasan lainnya adalah, pengamen ini kadang-kadang dapat menjadi sumber inspirasi saya. Baru saja saya tadi pulang dari sebuah kampus di daerah Sudirman. Di bus, ada seorang pengamen tuna netra yang sedang menyanyi dengan diiringi suara gitar. Sebut saja Bapak B. Sebelum menyanyi, Bapak B bercerita bahwa lagu ini merupakan curahan kesedihan dan penderitaannya sebagai seorang tuna netra. Bahwa ia tidak bisa melihat berbagai keindahan dan warna warni dunia.. Berikut ini merupakan sepenggal lirik lagunya:
“Mengapa aku harus dilahirkan di dunia..
Dengan menanggung semua beban derita ini..
Yang ada hanya hitam..
Yang ada hanya kelam..”

Di akhir lagunya, ia berpesan supaya kita semua dapat mensyukuri setiap berkat yang telah diberikan Tuhan. Mungkin kita tidak sadar, mata ini adalah pemberian-Nya yang sangat berharga. Coba bayangkan kalo saat ini mata kita ‘diambil’? Masihkah kita dapat menganggap bahwa hidup ini begitu indah??

Ada lagi satu lagi lagu pengamen yang menginspirasi saya. Kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, saya sedang dalam perjalanan dari kampus menuju rumah. Yang ngamen adalah laki-laki abege, yah paling tua juga 25-an umurnya. Sebut saja C. Lagu yang C bawakan berirama riang, dengan tempo cukup cepat. Berikut ini merupakan sepenggal lirik lagunya:
“Banyak yang bertanya, kelak aku mau jadi apa..
Kok nggak sekolah, kok nggak kerja?
Tapi inilah aku..
Aku bahagia sebagaimana aku adanya..
Tidak perlu banyak uang, atau materi berlimpah..
Aku bahagia sebagaimana aku adanya..”

Jangan dipandang bahwa ia adalah seorang pengamen, yang menurut pandangan sebagian orang, malas bekerja atau pasrah pada keadaan. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Seberapa puaskah kita dengan keadaan kita sekarang? Seberapa bahagiakah kita dengan semua yang telah kita miliki dalam hidup ini? And the fact that we can be happy without a lot of money, atau harta yang berlimpah. Saya bukan orang yang munafik. Uang memang penting sebagai penunjang kehidupan kita. Tapi, kalaupun kita banyak uang, itu tidak menjamin bahwa kita pasti akan bahagia. Dari pengamen tersebut, saya berpendapat bahwa bahagia adalah pilihan. No matter what your condition, you can always choose to be happy.

Soooo.. Untuk semua pengamen di luar sana, I want to say, thank you so much. Your song is my inspiration :) Tetap berkarya!

Saturday, March 27, 2010

frustrated

Pernahkah kalian menemukan jalan buntu ketika melakukan sesuatu? No matter how hard you try, you keep failing and failing. Seolah-olah ada tembok penghalang besar yang merintangi jalan kalian. It’s really frustrating. Gemesin. Aaaarrrggghhh…!!

As a teacher, I face this kind of condition all the time. Jangan bayangkan ketika kalian memutuskan untuk jadi seorang guru, kalian akan selalu punya murid yang manis-manis; murid yang selalu mendengarkan ketika kalian sedang menjelaskan sesuatu, yang selalu mengerjakan PR yang kalian berikan, atau yang selalu mengingat apa yang kalian minta mereka hapalkan. In fact, kalian akan menemukan anak-anak yang sulit. Anak-anak yang akan membuat kepala cenut-cenut, dan membuat kalian ingin berteriak keras sekali karena dipenuhi dengan perasaan frustrasi yang amat sangat..

I’ve teached this little girl for almost 15 months. Kita sebut saja J. Di usianya yang 9 tahun, perawakannya lebih menyerupai anak 6 tahun, kurus mungil. Jari-jarinya pun kurus, dan terkesan sangat fragile. Pertama kali saya mengajar J, tidak ada kesan yang berarti. Kemampuan baca notnya tergolong rata-rata. Dan anaknya pun tidak malas (well, setidaknya yang saya tahu). Namun setelah beberapa waktu, saya mulai menyadari bahwa J sepertinya lack of attention. Ketika saya hendak mengatakan sesuatu padanya, saya harus mengulanginya 3-4 kali, baru ia mengerti dan melakukan apa yang saya minta. Pernah malah, ketika saya minta dia memainkan sebuah lagu hanya dengan tangan kanannya saja, saking saya capek mengulang dan mengulang, saya langsung meletakkan tangan kirinya di pangkuannya, baru ia mengerti apa yang saya katakan. Selain itu, J juga sangat minus dalam musikalitas. Lagu sedih jadi tidak seperti lagu sedih. Lagu riang pun jadinya lebih seperti ‘berantakan’ daripada ‘riang’. Kalau saya sedang menjelaskan sesuatu, matanya sibuk melihat kemana-mana, ya ke langit-langit, ke kolong piano, ke segala arah kecuali saya..Sungguh saya habis akal menghadapi anak yang satu ini!

Tahun ini saya harus membimbing J untuk menghadapi ujian akhir tahun (supaya dia bisa naik ke tingkat). Saya bingung sendiri, cara apa yang harus saya gunakan agar dia bisa memainkan sebuah lagu dengan baik? Ayah saya selalu bilang, tidak ada anak yang benar-benar malas atau bodoh, yang ada hanyalah orang tua dan guru yang tidak bisa mengarahkan anak tersebut. Rasanya ingin sekali saya membantah apa yang ayah saya katakan tersebut. Karena dengan menyetujuinya, tinggal-lah saya menjadi seorang guru yang gagal mendidik muridnya.. Well, masih ada sekitar 8 bulan lagi menuju akhir tahun. Semoga 8 bulan ini, saya bisa diberikan hikmat dan kesabaran yang cukup untuk membimbing J mengikuti ujian akhir tahun. I know it’s not going to be easy, but I’m going to fight like hell because I believe that every student deserves the best from their teacher. God, please give strength to do this..

Sunday, March 14, 2010

Olahraga??? Siapa takut!

Hello guys! It's been almost a month sejak terakhir nulis =) Sebulan terakhir sih nggak ada yang spesial2 amat.. Sehari-hari masih kerjaannya ke kampus (berkutat dengan skripsi), mengajar, dan shopping tentunya hahaha.. Oh ya, saya baru saja dapat dua orang murid yang mother language-nya Bahasa Inggris, oh la la... Sempet bingung juga sih pertamanya, karena semua catatan saya buat dalam Bahasa Indonesia, begitu pula dengan latihan-latihan, semua perintah dan keterangannya dalam Bahasa Indonesia.. Tapi yah, setelah beberapa kali pertemuan, rasanya saya sudah mulai terbiasa juga..

Yang ingin saya sharing-kan di entry kali ini adalah... saya mulai nge-gym bulan ini!! =D actually, exercise is really not my thing.. Entah kenapa, kayaknya tidak ada gen atletis dalam badan saya ini. Dulu aja nilai olahraga pas SMA merah melulu hahaha. Kemarin ini entah kenapa saya jadi tiba-tiba terinspirasi untuk mulai berolahraga. Yah, kepengennya sih bisa menurunkan berat badan sedikit, dan bisa menjadi manusia yang lebih sehat (ciiieelah!) hahaha.. Jadi mulailah saya nge-gym seminggu 3-4 kali. Biasanya jadwal saya nge-gym pagi-pagi, karena kalau siang sampai sore sudah harus melakukan aktivitas di tempat lain. Kesan pertama?? Capek! ;p tapi seneng juga sih pas bisa ngerasain rasanya olahraga beneran (sampe badan sakit2 huh!). Sekarang lagi seneng ikutan kelas yoga nih hehehe secara saya bener-bener nggak ada potongan untuk ikutan kelas aerobik atau kelas2 lain yang membutuhkan gerak cepat dan koordinasi badan yang bagus hahaha ;p

Ok deh, entry kali ini singkat dan padat (maklum, internet di rumah belum dipasang juga, jadi di internet-an di warnet). Happy monday all!! =)

Wednesday, February 17, 2010

Masa depanku, ooohhh...

Belakangan ini saya lagi banyak berpikir tentang masa depan saya (ciiieeelaaahhh..) hahaha ;p beneran, saya lagi berpikir, mau jadi apa saya nanti?? Kalo dipikir2, pertanyaan itu agak2 basi yah kayaknya, karena mestinya di umur saya yang sudah berkepala 2 (ciiieeelllaaah lagi hahaha) saya sudah harus tahu apa yang akan saya kerjakan nanti.. Tadinya saya pikir saya sudah tahu jawabannya: saya mau jadi psikolog! Tapi setelah beberapa kejadian yang cukup menggelitik, saya jadi mempertimbangkan lagi hal tsb..

Begini ceritanya.. Beberapa minggu yg lalu, saya sempat ngobrol2 dengan teman saya di tempat saya mengajar. Sebut saya I. I ini adalah seorang mahasiswa s2 di salah satu perguruan tinggi swasta. Selain jadi mahasiswa, ia juga menjadi guru piano di tempat saya mengajar. Ia bilang bahwa ia tidak ingin kerja kantoran, karena ia tidak suka kerja kantoran. Well honestly, saya sangat tidak suka dengan kerja kantoran. SANGAT! Pas mata kuliah PIO (Psikologi Industri & Organisasi) saja, saya sudah tahu bahwa saya anti dengan bidang yang satu ini. Setiap kali mau pelajaran, bawaannya malas, menggerutu, mengantuk, bosan, pokoknya tidak ada antusiasme sama sekali. Saya juga tdk tahu kenapa saya bisa begitu anti dengan kerja kantoran, mungkin emang dari sananya nggak minat kali yeeee =b Hal ini juga didukung dengan beberapa teman yg mengatakan hal serupa bahwa kerja kantoran tdk enak, membosankan, bla, bla, bla...

Pas kita lagi ngobrol2, datanglah guru saya (seorang guru senior di tempat saya mengajar). Sebutlah Ibu Y. Ibu Y justru tidak sependapat dengan saya dan teman saya. Ia bilang, "Coba kamu pikir. Kerja kantoran nggak melulu soal kerjaannya. Banyak keuntungan yang bisa kamu dapat. Misalnya aja, dari sisi pergaulan. Pergaulan kamu bisa lebih luas. Coba di sini (di tempat saya mengajar), paling2 ketemunya orang tua murid, atau saya hehe.." Pas pulang mengajar, saya kembali merenungkan hal ini. Benar juga sih, apa yang dikatakan guru saya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kerja kantoran juga punya sisi positifnya tersendiri..

Mikir, mikir, mikir, saya jadinya mengevalusi kembali cita2 saya untuk segera kuliah s2 dan jadi psikolog. Saya pikir, kalau saya segera ambil s2, katakanlah saya lulus s2 ketika berusia 25 tahun (kuliah s2 sekitar 2-3 tahun), lalu buka praktek, apa ada orang yang mau konsultasi dengan saya??? Kalau klien saya mau konsultasi tentang pernikahannya, saya belum menikah.. Kalau klien saya mau konsultasi tentang anaknya yang bermasalah, saya belum punya anak.. Konsultasi macam apa yang akan saya berikan kepada klien saya nanti??? Saya tahu sih, memang nggak harus seperti itu urut2an-nya (menikah dulu baru bisa kasih konsultasi mengenai pernikahan), tapi alangkah baiknya kalau teori disertai dengan pengalaman, bukan???

Untuk sementara sih saya memang belum mendapatkan kesimpulannya.. Mungkin saya akan jalankan dulu apa yang ada di depan mata, yaitu menyelesaikan skripsi dan segera wisuda. Dan mengajar piano tentunya (karena masih terikat kontrak sampai tahun depan). Untuk ke depannya, masih dalam tahap perencanaan, hanya Tuhan yang tahu =)

Thursday, February 11, 2010

some people from the street

Haaaaiii =) apa kabar teman? Sudah lama sekali tidak menulis lagi. Padahal masih liburan, tapi entah kenapa, rasanya saya begitu terikat dengan rutinitas sehari-hari sampai tidak menyempatkan diri menulis. Lebih tepatnya, internet di rumah sedang tdk bisa digunakan karena line telepon lagi mati. Yang mengecewakan, saya sudah 3 kali laporan ke pihak yang berwajib, tapi nggak kunjung diperbaiki tuh telepon. Huh!

Anyway.. Sekarang saya mau bercerita sedikit tentang orang2 di jalan yang memberikan secercah kebahagiaan dan inspirasi dalam hidup saya. Saya tidak mengenal orang2 ini secara personal, bahkan saya tidak pernah bertegur sapa dengan mereka, tapi karena sering melihat mereka, saya mau tidak mau 'mengobservasi' mereka hahahaha ;p

Ok, so here's the story..
1. Ibu tukang jual kerupuk keliling
Mungkin lebih tepat memanggilna 'Nci' karena ibu ini memiliki perawakan sedang, dengan kulit putih dan mata sipit. Sehari2 ibu ini menjual kerupuk di daerah rumah saya dengan menggunakan sepedanya. Kalo kalian pergi ke daerah rumah saya, kalian tidak kesulitan menemukan ibu ini. Ia akan menjajakan dagangannya di warnet, di restoran, di bank, kantor, pokoknya di setiap tempat yang ia lewati. Mulai dari siang hari, sore, hingga malam hari, saya masih suka melihat ibu ini berjualan dengan semangat yang luar biasa.

2. Ayah dan anak laki2nya yang bekerja sebagai supir dan kenek metromini 91
Entah apa yang membuat mereka begitu spesial.. Pertama kali saya naik metromini mereka, saya melihat si kenek (anak dari bapak supir) sebagai orang yang lucu. Dengan perawakan gemuk, kulit hitam, dan suara yang lantang, ia seringkali bercanda ketika berhadapan dengan penumpang. Sering juga ia mendendangkan lagu2 pop dengan suaranya yang fals. Meskipun demikian, ia juga seorang yang riang gembira, dan tahu bagaimana harus bersyukur. Setiap ada penumpang yang membayar ongkos, ia akan bilang 'Alhamdullilah' atau 'terima kasih'. Agak2 jarang ya ditemukan orang seperti ini, apalagi yang bekerja sebagai kenek bus..Ia mengingatkan saya, seberapa berat pekerjaan yang harus kita lakukan, jangan lupa tetap tersenyum dan bersyukur kepada-Nya =)

3. Orang2 yang dengan baik hati menyeberangkan saya
Entah sudah berapa kali saya dibantu menyeberang..Satpam, 'Pak Ogah', tukang parkir, tukang gali jalanan, dll. Bukannya saya nggak bisa nyeberang lho yaaaaa ;p Mungkin ini cuma hal yang sederhana, tapi menurut saya, hal ini merupakan sesuatu yang sangat membantu orang lain.

Sebenarnya masih banyak orang2 yang ingin saya ceritakan.. Tapi mungkin disambung lain kali. Sekarang harus segera berangkat les mandarin hehehe ciao!

Wednesday, January 13, 2010

Truly Dedicated

Sepertinya yang telah saya tulis di entry sebelumnya, tahun ini saya mengajar kelas teori di tempat saya mengajar. Jadi seperti guru di sekolah saja, saya harus berhadapan dengan sejumlah murid, dan menerangkan di papan tulis. Nah, di kelas saya ini ada satu murid yang menurut saya istimewa. Murid ini merupakan seorang ibu-ibu berusia kurang lebih 35-40 tahun, mari kita sebut Ibu Y. Kenapa dia bisa jadi murid di kelas saya??? Karena dia harus mendampingi anaknya yang terkena hidrocephalus, mari kita sebut saja N. Jadi gini, kelas saya itu dihuni oleh anak-anak berusia 4-6 tahun (pada umumnya) dan merupakan kelas teori dasar musik ketika anak-anak baru pertama kali belajar musik. Nah, N ini sejak bayi memang sudah terkena hidrocephalus, dan sudah menjalani 5 kali operasi. Jadi, walaupun sekarang usia biologisnya 8 tahun, tapi kemampuannya tidak setara dengan anak usia 8 tahun. Ia baru bisa berjalan 3 tahun yang lalu, dan baru-baru saja ia bisa menulis (fyi, hidrocephalus menyerang otak dan saraf-saraf dalam tubuh kita). Ketika saya pertama kali melihat Ibu Y, saya cukup kaget juga. Dia memperkenalkan diri sebagai murid di kelas saya (walaupun hampir sepanjang jam pelajaran ia lebih fokus kepada anaknya, ia tetap mencatat, buat latihan, buat PR, dll). Sepanjang jam pelajaran, ia dengan sabar membantu anaknya mengikuti pelajaran yang saya berikan. Memberikan high five jika anaknya bisa melakukan sebuah tugas, tersenyum, memberikan pujian, membantu menulis, dll. Tidak sekalipun ia terlihat marah, kesal, atau tidak sabaran. Yang lebih buat kaget lagi, ia ternyata juga belajar piano praktek di tempat saya mengajar tersebut. Ckckckck... Dua jempol buat Ibu Y ini, benar2 memiliki dedikasi tinggi dalam hidupnya. Berdedikasi sebagai ibu, karena bersedia dengan sepenuh hati mendidik dan mendukung anaknya. Berdedikasi sebagai murid, karena masih mau belajar di usianya yang sudah tidak muda lagi. Berdedikasi sebagai guru, karena hidupnya menginspirasi banyak orang. Terima kasih Ibu Y =)