Belakangan ini saya lagi banyak berpikir tentang masa depan saya (ciiieeelaaahhh..) hahaha ;p beneran, saya lagi berpikir, mau jadi apa saya nanti?? Kalo dipikir2, pertanyaan itu agak2 basi yah kayaknya, karena mestinya di umur saya yang sudah berkepala 2 (ciiieeelllaaah lagi hahaha) saya sudah harus tahu apa yang akan saya kerjakan nanti.. Tadinya saya pikir saya sudah tahu jawabannya: saya mau jadi psikolog! Tapi setelah beberapa kejadian yang cukup menggelitik, saya jadi mempertimbangkan lagi hal tsb..
Begini ceritanya.. Beberapa minggu yg lalu, saya sempat ngobrol2 dengan teman saya di tempat saya mengajar. Sebut saya I. I ini adalah seorang mahasiswa s2 di salah satu perguruan tinggi swasta. Selain jadi mahasiswa, ia juga menjadi guru piano di tempat saya mengajar. Ia bilang bahwa ia tidak ingin kerja kantoran, karena ia tidak suka kerja kantoran. Well honestly, saya sangat tidak suka dengan kerja kantoran. SANGAT! Pas mata kuliah PIO (Psikologi Industri & Organisasi) saja, saya sudah tahu bahwa saya anti dengan bidang yang satu ini. Setiap kali mau pelajaran, bawaannya malas, menggerutu, mengantuk, bosan, pokoknya tidak ada antusiasme sama sekali. Saya juga tdk tahu kenapa saya bisa begitu anti dengan kerja kantoran, mungkin emang dari sananya nggak minat kali yeeee =b Hal ini juga didukung dengan beberapa teman yg mengatakan hal serupa bahwa kerja kantoran tdk enak, membosankan, bla, bla, bla...
Pas kita lagi ngobrol2, datanglah guru saya (seorang guru senior di tempat saya mengajar). Sebutlah Ibu Y. Ibu Y justru tidak sependapat dengan saya dan teman saya. Ia bilang, "Coba kamu pikir. Kerja kantoran nggak melulu soal kerjaannya. Banyak keuntungan yang bisa kamu dapat. Misalnya aja, dari sisi pergaulan. Pergaulan kamu bisa lebih luas. Coba di sini (di tempat saya mengajar), paling2 ketemunya orang tua murid, atau saya hehe.." Pas pulang mengajar, saya kembali merenungkan hal ini. Benar juga sih, apa yang dikatakan guru saya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kerja kantoran juga punya sisi positifnya tersendiri..
Mikir, mikir, mikir, saya jadinya mengevalusi kembali cita2 saya untuk segera kuliah s2 dan jadi psikolog. Saya pikir, kalau saya segera ambil s2, katakanlah saya lulus s2 ketika berusia 25 tahun (kuliah s2 sekitar 2-3 tahun), lalu buka praktek, apa ada orang yang mau konsultasi dengan saya??? Kalau klien saya mau konsultasi tentang pernikahannya, saya belum menikah.. Kalau klien saya mau konsultasi tentang anaknya yang bermasalah, saya belum punya anak.. Konsultasi macam apa yang akan saya berikan kepada klien saya nanti??? Saya tahu sih, memang nggak harus seperti itu urut2an-nya (menikah dulu baru bisa kasih konsultasi mengenai pernikahan), tapi alangkah baiknya kalau teori disertai dengan pengalaman, bukan???
Untuk sementara sih saya memang belum mendapatkan kesimpulannya.. Mungkin saya akan jalankan dulu apa yang ada di depan mata, yaitu menyelesaikan skripsi dan segera wisuda. Dan mengajar piano tentunya (karena masih terikat kontrak sampai tahun depan). Untuk ke depannya, masih dalam tahap perencanaan, hanya Tuhan yang tahu =)
Wednesday, February 17, 2010
Thursday, February 11, 2010
some people from the street
Haaaaiii =) apa kabar teman? Sudah lama sekali tidak menulis lagi. Padahal masih liburan, tapi entah kenapa, rasanya saya begitu terikat dengan rutinitas sehari-hari sampai tidak menyempatkan diri menulis. Lebih tepatnya, internet di rumah sedang tdk bisa digunakan karena line telepon lagi mati. Yang mengecewakan, saya sudah 3 kali laporan ke pihak yang berwajib, tapi nggak kunjung diperbaiki tuh telepon. Huh!
Anyway.. Sekarang saya mau bercerita sedikit tentang orang2 di jalan yang memberikan secercah kebahagiaan dan inspirasi dalam hidup saya. Saya tidak mengenal orang2 ini secara personal, bahkan saya tidak pernah bertegur sapa dengan mereka, tapi karena sering melihat mereka, saya mau tidak mau 'mengobservasi' mereka hahahaha ;p
Ok, so here's the story..
1. Ibu tukang jual kerupuk keliling
Mungkin lebih tepat memanggilna 'Nci' karena ibu ini memiliki perawakan sedang, dengan kulit putih dan mata sipit. Sehari2 ibu ini menjual kerupuk di daerah rumah saya dengan menggunakan sepedanya. Kalo kalian pergi ke daerah rumah saya, kalian tidak kesulitan menemukan ibu ini. Ia akan menjajakan dagangannya di warnet, di restoran, di bank, kantor, pokoknya di setiap tempat yang ia lewati. Mulai dari siang hari, sore, hingga malam hari, saya masih suka melihat ibu ini berjualan dengan semangat yang luar biasa.
2. Ayah dan anak laki2nya yang bekerja sebagai supir dan kenek metromini 91
Entah apa yang membuat mereka begitu spesial.. Pertama kali saya naik metromini mereka, saya melihat si kenek (anak dari bapak supir) sebagai orang yang lucu. Dengan perawakan gemuk, kulit hitam, dan suara yang lantang, ia seringkali bercanda ketika berhadapan dengan penumpang. Sering juga ia mendendangkan lagu2 pop dengan suaranya yang fals. Meskipun demikian, ia juga seorang yang riang gembira, dan tahu bagaimana harus bersyukur. Setiap ada penumpang yang membayar ongkos, ia akan bilang 'Alhamdullilah' atau 'terima kasih'. Agak2 jarang ya ditemukan orang seperti ini, apalagi yang bekerja sebagai kenek bus..Ia mengingatkan saya, seberapa berat pekerjaan yang harus kita lakukan, jangan lupa tetap tersenyum dan bersyukur kepada-Nya =)
3. Orang2 yang dengan baik hati menyeberangkan saya
Entah sudah berapa kali saya dibantu menyeberang..Satpam, 'Pak Ogah', tukang parkir, tukang gali jalanan, dll. Bukannya saya nggak bisa nyeberang lho yaaaaa ;p Mungkin ini cuma hal yang sederhana, tapi menurut saya, hal ini merupakan sesuatu yang sangat membantu orang lain.
Sebenarnya masih banyak orang2 yang ingin saya ceritakan.. Tapi mungkin disambung lain kali. Sekarang harus segera berangkat les mandarin hehehe ciao!
Anyway.. Sekarang saya mau bercerita sedikit tentang orang2 di jalan yang memberikan secercah kebahagiaan dan inspirasi dalam hidup saya. Saya tidak mengenal orang2 ini secara personal, bahkan saya tidak pernah bertegur sapa dengan mereka, tapi karena sering melihat mereka, saya mau tidak mau 'mengobservasi' mereka hahahaha ;p
Ok, so here's the story..
1. Ibu tukang jual kerupuk keliling
Mungkin lebih tepat memanggilna 'Nci' karena ibu ini memiliki perawakan sedang, dengan kulit putih dan mata sipit. Sehari2 ibu ini menjual kerupuk di daerah rumah saya dengan menggunakan sepedanya. Kalo kalian pergi ke daerah rumah saya, kalian tidak kesulitan menemukan ibu ini. Ia akan menjajakan dagangannya di warnet, di restoran, di bank, kantor, pokoknya di setiap tempat yang ia lewati. Mulai dari siang hari, sore, hingga malam hari, saya masih suka melihat ibu ini berjualan dengan semangat yang luar biasa.
2. Ayah dan anak laki2nya yang bekerja sebagai supir dan kenek metromini 91
Entah apa yang membuat mereka begitu spesial.. Pertama kali saya naik metromini mereka, saya melihat si kenek (anak dari bapak supir) sebagai orang yang lucu. Dengan perawakan gemuk, kulit hitam, dan suara yang lantang, ia seringkali bercanda ketika berhadapan dengan penumpang. Sering juga ia mendendangkan lagu2 pop dengan suaranya yang fals. Meskipun demikian, ia juga seorang yang riang gembira, dan tahu bagaimana harus bersyukur. Setiap ada penumpang yang membayar ongkos, ia akan bilang 'Alhamdullilah' atau 'terima kasih'. Agak2 jarang ya ditemukan orang seperti ini, apalagi yang bekerja sebagai kenek bus..Ia mengingatkan saya, seberapa berat pekerjaan yang harus kita lakukan, jangan lupa tetap tersenyum dan bersyukur kepada-Nya =)
3. Orang2 yang dengan baik hati menyeberangkan saya
Entah sudah berapa kali saya dibantu menyeberang..Satpam, 'Pak Ogah', tukang parkir, tukang gali jalanan, dll. Bukannya saya nggak bisa nyeberang lho yaaaaa ;p Mungkin ini cuma hal yang sederhana, tapi menurut saya, hal ini merupakan sesuatu yang sangat membantu orang lain.
Sebenarnya masih banyak orang2 yang ingin saya ceritakan.. Tapi mungkin disambung lain kali. Sekarang harus segera berangkat les mandarin hehehe ciao!
Wednesday, January 13, 2010
Truly Dedicated
Sepertinya yang telah saya tulis di entry sebelumnya, tahun ini saya mengajar kelas teori di tempat saya mengajar. Jadi seperti guru di sekolah saja, saya harus berhadapan dengan sejumlah murid, dan menerangkan di papan tulis. Nah, di kelas saya ini ada satu murid yang menurut saya istimewa. Murid ini merupakan seorang ibu-ibu berusia kurang lebih 35-40 tahun, mari kita sebut Ibu Y. Kenapa dia bisa jadi murid di kelas saya??? Karena dia harus mendampingi anaknya yang terkena hidrocephalus, mari kita sebut saja N. Jadi gini, kelas saya itu dihuni oleh anak-anak berusia 4-6 tahun (pada umumnya) dan merupakan kelas teori dasar musik ketika anak-anak baru pertama kali belajar musik. Nah, N ini sejak bayi memang sudah terkena hidrocephalus, dan sudah menjalani 5 kali operasi. Jadi, walaupun sekarang usia biologisnya 8 tahun, tapi kemampuannya tidak setara dengan anak usia 8 tahun. Ia baru bisa berjalan 3 tahun yang lalu, dan baru-baru saja ia bisa menulis (fyi, hidrocephalus menyerang otak dan saraf-saraf dalam tubuh kita). Ketika saya pertama kali melihat Ibu Y, saya cukup kaget juga. Dia memperkenalkan diri sebagai murid di kelas saya (walaupun hampir sepanjang jam pelajaran ia lebih fokus kepada anaknya, ia tetap mencatat, buat latihan, buat PR, dll). Sepanjang jam pelajaran, ia dengan sabar membantu anaknya mengikuti pelajaran yang saya berikan. Memberikan high five jika anaknya bisa melakukan sebuah tugas, tersenyum, memberikan pujian, membantu menulis, dll. Tidak sekalipun ia terlihat marah, kesal, atau tidak sabaran. Yang lebih buat kaget lagi, ia ternyata juga belajar piano praktek di tempat saya mengajar tersebut. Ckckckck... Dua jempol buat Ibu Y ini, benar2 memiliki dedikasi tinggi dalam hidupnya. Berdedikasi sebagai ibu, karena bersedia dengan sepenuh hati mendidik dan mendukung anaknya. Berdedikasi sebagai murid, karena masih mau belajar di usianya yang sudah tidak muda lagi. Berdedikasi sebagai guru, karena hidupnya menginspirasi banyak orang. Terima kasih Ibu Y =)
Tuesday, December 29, 2009
my diary
So, kemaren ini saya sempat membereskan lemari buku saya, dan saya menemukan kembali diary saya pas SMP. Agak2 amazing juga bacanya, karena pas saya baca, kok dulu gue norak begini yahhh?! Hehehe ;p Isinya yah standar-lah, seperti kebanyakan anak SMP lainnya, seputar kehidupan sekolah dan teman-teman. Sempat cekikikan sendiri kalo inget-inget masa-masa itu.. Bayangin aja, dulu itu saya sering bolos pelajaran dengan alasan bikin mading, atau nggak bolos pelajaran demi nongkrong-nongkrong nonton tv di ruang guru (agak2 ajaib juga lho nggak ketauan hihihi).. Pokoknya, every day is a new adventure for us. Dan, gara-gara diary SMP itu, jadilah saya bernostalgia ke masa-masa SMP.. Masa-masa yang indah. Hidup serasa nggak ada beban, karena yang ada di pikiran, bagaimana caranya bersenang-senang hari ini hahahaha Dasar abege! =b Hmm.. Kalo ingat-ingat masa itu, setiap hari rasanya begitu antusias ke sekolah. Bukan karena pelajarannya, tapi karena excited dengan apa yang akan kita lakukan dengan teman-teman.. Ketawa-ketiwi, bergosip, nongkrong-nongkrong, bolos pelajaran...
This is some picture of me and my friends when we were still at junior high school.




To all my friends: miss you guys a lot!!! ;p
Sunday, December 13, 2009
Peran Pengurus Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Murid di Sekolah
Pada posting sebelumnya telah dibahas cara-cara praktis yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk memotivasi anak belajar. Pada posting kali ini, saya akan membahas peran pengurus sekolah dalam hubungannya dengan motivasi belajar anak. Pengurus sekolah yang dimaksud adalah para pejabat sekolah, seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan pejabat sekolah lainnya.
Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan pengurus sekolah untuk meningkatkan motivasi murid di sekolah:
1. Memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali (to be recognized) dan dihargai (rew
arded)
Pihak sekolah dapat mengembangkan sebuah program pendidikan yang dapat memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali dan dihargai. Hal ini tidak hanya untuk berlaku untuk prestasi akademik, namun juga untuk prestasi non-akademik (misalnya prestasi dalam bidang musik, olah raga, menari, dan sebagainya). Sebagai contoh, pihak sekolah dapat menerapkan sistem exhibition, di mana setiap murid diberikan kesempatan untuk menampilkan karyanya untuk dipajang di aula sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga dapat memberikan reward untuk murid dengan prestasi terbaik, dan mengumumkannya kepada murid-murid lain.
2. Membatasi jumlah murid dalam satu kelas
Jumlah murid yang terdapat dalam satu kelas mempengaruhi interaksi yang terjadi antara guru dengan murid-muridnya. Dengan jumlah murid yang lebih sedikit, murid memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapat perhatian guru, dan hubungan guru-murid pun dapat terjalin dengan lebih baik. Guru memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengenal masing-masing murid secara personal, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing murid, dan memotivasi mereka secara individual.
3. Melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar anak
Seperti telah dibahas sebelumnya, keterlibatan orang tua memiliki dampak positif bagi motivasi anak. Pihak sekolah dapat melibatkan orang tua dengan berbagai macam cara, misalnya secara berkala mengadakan pertemuan guru dengan orang tua untuk membicarakan perkembangan murid, dan mengadakan kegiatan-kegiatan di sekolah yang dapat mengikutsertakan orang tua murid.
4. Memberlakukan sistem pengelompokkan (grouping) yang menstimulasi interaksi murid
Sistem pengelompokkan murid berdasarkan kelas sosio-ekonomi atau kelompok etnis tertentu haruslah diminimalisasi. Begitu pula dengan sistem pengelompokkan murid berdasarkan prestasi akademiknya (murid-murid yang pintar dikelompokkan ke dalam satu kelas tersendiri, sementara murid-murid yang kurang pintar dikelompokkan ke dalam kelas lain). Biarkanlah murid-murid dengan berbagai latar belakang berinteraksi satu sama lain. Selain meningkatkan motivasi murid di sekolah, hal ini dapat melatih murid untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan murid lain yang memiliki latar belakang berbeda dengan dirinya.
biarkanlah murid berinteraksi dengan bebas tanpa harus dikelompokkan berdasarkan status ekonomi, etnis, atau prestasi akademik...
Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.
Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan pengurus sekolah untuk meningkatkan motivasi murid di sekolah:
1. Memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali (to be recognized) dan dihargai (rew
arded)Pihak sekolah dapat mengembangkan sebuah program pendidikan yang dapat memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali dan dihargai. Hal ini tidak hanya untuk berlaku untuk prestasi akademik, namun juga untuk prestasi non-akademik (misalnya prestasi dalam bidang musik, olah raga, menari, dan sebagainya). Sebagai contoh, pihak sekolah dapat menerapkan sistem exhibition, di mana setiap murid diberikan kesempatan untuk menampilkan karyanya untuk dipajang di aula sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga dapat memberikan reward untuk murid dengan prestasi terbaik, dan mengumumkannya kepada murid-murid lain.
2. Membatasi jumlah murid dalam satu kelas

Jumlah murid yang terdapat dalam satu kelas mempengaruhi interaksi yang terjadi antara guru dengan murid-muridnya. Dengan jumlah murid yang lebih sedikit, murid memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapat perhatian guru, dan hubungan guru-murid pun dapat terjalin dengan lebih baik. Guru memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengenal masing-masing murid secara personal, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing murid, dan memotivasi mereka secara individual.
3. Melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar anak
Seperti telah dibahas sebelumnya, keterlibatan orang tua memiliki dampak positif bagi motivasi anak. Pihak sekolah dapat melibatkan orang tua dengan berbagai macam cara, misalnya secara berkala mengadakan pertemuan guru dengan orang tua untuk membicarakan perkembangan murid, dan mengadakan kegiatan-kegiatan di sekolah yang dapat mengikutsertakan orang tua murid.
4. Memberlakukan sistem pengelompokkan (grouping) yang menstimulasi interaksi murid
Sistem pengelompokkan murid berdasarkan kelas sosio-ekonomi atau kelompok etnis tertentu haruslah diminimalisasi. Begitu pula dengan sistem pengelompokkan murid berdasarkan prestasi akademiknya (murid-murid yang pintar dikelompokkan ke dalam satu kelas tersendiri, sementara murid-murid yang kurang pintar dikelompokkan ke dalam kelas lain). Biarkanlah murid-murid dengan berbagai latar belakang berinteraksi satu sama lain. Selain meningkatkan motivasi murid di sekolah, hal ini dapat melatih murid untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan murid lain yang memiliki latar belakang berbeda dengan dirinya.
biarkanlah murid berinteraksi dengan bebas tanpa harus dikelompokkan berdasarkan status ekonomi, etnis, atau prestasi akademik...Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.
Gambar diambil dari:
Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Kelas

Stipek (dalam Santrock, 2008) mengatakan bahwa murid yang bermasalah di sekolah pada umumnya memiliki interaksi yang negatif dengan gurunya. Hal inilah yang saya alami dulu ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Saya tidak pernah suka dengan pelajaran bahasa Mandarin, karena guru yang mengajar mata pelajaran tersebut sangat membosankan. Selama pelajaran, ia hanya membebani kami dengan pekerjaan menulis aksara mandarin terus-menerus, tanpa ada interaksi dengan kami. Ia tidak pernah memberikan humor di kelas, tidak pernah menanyakan kesulitan apa yang kami hadapi, dan ia tidak mengenal kami secara personal. Rasa tidak suka saya akhirnya membuat saya malas belajar, dan tidak heran jika nilai bahasa Mandarin saya selalu buruk..
Tidak diragukan lagi, guru memegang peran penting dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran, guru berperan sebagai pengajar, motivator, sekaligus juga model atau panutan bagi murid. Stipek (dikutip dalam Schunk, Pintrich, & Meece, 2008) mengatakan bahwa setiap perbuatan guru memiliki potensi untuk meningkatkan motivasi murid. Dengan demikian, tidak hanya perbuatan memberikan reward kepada murid yang dapat meningkatkan motivasi murid, melainkan perbuatan seperti perencanaan pembelajaran dan manajemen kelas juga dapat meningkatkan motivasi murid.
So, what can teacher do to increase student’s motivation??
Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi murid di kelas:
Tidak diragukan lagi, guru memegang peran penting dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran, guru berperan sebagai pengajar, motivator, sekaligus juga model atau panutan bagi murid. Stipek (dikutip dalam Schunk, Pintrich, & Meece, 2008) mengatakan bahwa setiap perbuatan guru memiliki potensi untuk meningkatkan motivasi murid. Dengan demikian, tidak hanya perbuatan memberikan reward kepada murid yang dapat meningkatkan motivasi murid, melainkan perbuatan seperti perencanaan pembelajaran dan manajemen kelas juga dapat meningkatkan motivasi murid.
So, what can teacher do to increase student’s motivation??
Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi murid di kelas:
1. Memberikan feedback (umpan balik) atas hasil pekerjaan murid
Pemberian feedback merupakan hal yang penting untuk meningkatkan motivasi murid. Dengan memberikan feedback, guru memberi tahu murid mengenai kesalahan yang diperbuatnya, juga memberi tahu bagaimana memperbaiki kesalahannya tersebut. Selain memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah, guru juga dapat memberikan kata-kata penyemangat, seperti ”Kamu pasti bisa!” atau ”Prestasi kamu sungguh membanggakan!”. Pemberian feedback membuat murid merasa dihargai, dan menunjukkan bahwa guru memperhatikan murid-muridnya (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008)
2. Memberikan rewards atau penghargaan atas prestasi murid
Pemberian rewards terhadap prestasi murid merupakan salah satu aplikasi teori pembelajaran Skinner (operant conditioning), bahwa perilaku yang mendapat rewards akan cenderung diulangi, sementara perilaku yang mendapat hukuman akan cenderung untuk tidak diulangi. Rewards yang diberikan dapat berupa poin tambahan, waktu istirahat tambahan, stiker, pujian, dan sebagainya. Bentuk lain dari rewards adalah dengan rekognisi, misalnya dengan memajang hasil karya terbaik di kelas, atau dengan mengumumkan di depan kelas siapa yang memperolah nilai tertinggi pada saat ulangan (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008).
3. Menciptakan iklim kelas yang mendukung murid untuk belajar

Iklim kelas diartikan sebagai atmosfer atau suasana di dalam kelas. Iklim kelas berhubungan dengan gaya pengajaran dan kepemimpinan guru di dalam kelas. Penelitian yang dilakukan oleh Lewin, Lippitt, dan White (dikutip dalam Schunk, Pintrich, & Meece, 2008) membuktikan bahwa motivasi murid akan lebih meningkat apabila guru menerapkan gaya pengajaran yang demokratis; ditandai dengan sikap guru yang bersahabat, memberikan otonomi yang cukup kepada murid, menstimulasi murid untuk menyatakan pendapatnya di kelas, dan mendorong murid untuk saling berkolaborasi dalam memecahkan suatu permasalahan. Seorang guru yang demokratis tidak mengontrol muridnya secara berlebihan, namun tetap memberikan batasan terhadap perilaku murid.
4. Memberikan tugas-tugas yang menantang dan menarik perhatian murid
Untuk memotivasi murid, guru dapat memberikan tugas-tugas yang bervariasi dan menarik bagi murid, menyediakan dukungan emosional dan kognitif yang memadai bagi murid dalam mengerjakan tugasnya, serta menyediakan berbagai material yang dibutuhkan murid untuk dapat menyelesaikan tugasnya tersebut (Santrock, 2008).
Selain keempat hal di atas, ditemukan bahwa karakteristik guru juga dapat meningkatkan motivasi belajar murid. Salah satu karakteristik tersebut adalah antusiasme guru dalam mengajar. Penelitian yang dilakukan oleh McDermott et al. (dikutip dalam Nevin & Knoblock, 2005) menunjukkan bahwa antusiasme guru di dalam kelas dapat membentuk iklim kelas yang positif untuk mendukung proses belajar mengajar. Guru yang antusias dalam mengajar akan berusaha untuk mengenal muridnya secara personal, misalnya dengan mengenal latar belakang keluarganya. Selain itu, antusiasme guru juga ditunjukkan dengan cara bersikap hangat dan peduli kepada murid, menunjukkan emosi di kelas (misalnya dengan menggunakan humor), dan menciptakan suasana kelas yang interaktif (misalnya mengajak murid untuk saling berdiskusi, atau memberikan pertanyaan kepada murid). Hal ini akan menjadikan suasana kelas lebih ’hidup’ dan mencegah anak merasa bosan selama belajar di kelas.
Selain antusiasme, guru juga dapat meningkatkan motivasi belajar murid dengan menggunakan berbagai metode secara variatif untuk memenuhi kebutuhan masing-masing murid. Guru perlu menyadari bahwa masing-masing murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk dapat menjangkau setiap murid, guru perlu menerapkan pendekatan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing murid (Nevin & Knoblock, 2005).
Antusiasme guru dalam mengajar dan kemampuan guru untuk menggunakan berbagai metode pengajaran secara variatif juga turut mempengaruhi motivasi belajar siswa...Sumber referensi:
Nevin, N. A. & Knoblock, N. A. (January 2005). Is your classroom the happenin’ place to be? The Agricultural Education Magazine, 77, 17-18.
Santrock, J. W. (2008). Educational psychology (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.
Gambar pertama dan kedua diambil dari http://www.clipart.com/details/clipart/1584
Gambar ketiga diambil dari http://www.project-abroad.de/projekteutterichten/utterichten-in-china
Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Anak

Pengaruh sosio-kultural dari teman sebaya, keluarga, budaya, dan komunitas memegang peranan penting dalam perkembangan, pencapaian (achievement), dan motivasi anak. Faktor yang akan dibahas secara lebih mendalam dalam posting kali ini adalah faktor keluarga. Sebagai pihak yang paling dekat dengan kehidupan anak, tidak diragukan lagi bahwa keluarga, terutama orang tua, memegang peranan penting dalam meningkatkan motivasi anak dalam belajar.
Berikut ini adalah beberapa cara praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan motivasi anak di sekolah (Schunk, Pintrich, & Meece, 208):
Berikut ini adalah beberapa cara praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan motivasi anak di sekolah (Schunk, Pintrich, & Meece, 208):
1. Menciptakan iklim rumah yang mendukung anak untuk belajar
Orang tua dapat menyediakan berbagai perlengkapan maupun permainan yang dapat mendukung anak untuk belajar, misalnya seperti komputer, buku-buku, puzzle, dan sebagainya. Dengan demikian, orang tua secara tidak langsung memotivasi anak dengan cara menstimulasi rasa ingin tahunya, serta mendorong anak untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.
2. Sediakan waktu yang cukup untuk terlibat dalam kegiatan belajar anak
Selain menciptakan iklim rumah yang dapat mendukung anak untuk belajar, interaksi orang tua dengan anak ternyata juga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menemani anak belajar, menunjukkan perhatian terhadap kegiatan belajar anak, memberikan bantuan ketika anak menghadapi kesulitan, dan sebagainya. Sebagai partner anak dalam belajar, orang tua sebaiknya menunjukkan sikap yang hangat dan positif terhadap anak, misalnya dengan tidak memarahi anak ketika anak tidak dapat mengerjakan PR-nya dengan baik.
3. Berikan penghargaan atau respon positif terhadap setiap prestasi anak
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan hadiah atau pujian. Dengan demikian, anak merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu.
4. Didiklah anak secara demokratis
Kontrol yang terlalu ketat terhadap anak akan ‘mematikan’ motivasi anak. Secara umum, motivasi anak cenderung meningkat ketika orang tua mengizinkan anak untuk membuat keputusan sendiri, memperhatikan kebutuhan dan perasaan anak, serta menyediakan pilihan dan alternatif kepada anak. Komunikasikan harapan dan keinginan orang tua kepada anak dalam bentuk saran, dan bukan dalam bentuk perintah.
Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.
Gambar diambil dari http://www.flickr.com/photos/kindalikeyou/3457605988/
Subscribe to:
Posts (Atom)