Sunday, December 13, 2009

Peran Pengurus Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Murid di Sekolah

Pada posting sebelumnya telah dibahas cara-cara praktis yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk memotivasi anak belajar. Pada posting kali ini, saya akan membahas peran pengurus sekolah dalam hubungannya dengan motivasi belajar anak. Pengurus sekolah yang dimaksud adalah para pejabat sekolah, seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan pejabat sekolah lainnya.

Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan pengurus sekolah untuk meningkatkan motivasi murid di sekolah:

1. Memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali (to be recognized) dan dihargai (rewarded)
Pihak sekolah dapat mengembangkan sebuah program pendidikan yang dapat memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk dikenali dan dihargai. Hal ini tidak hanya untuk berlaku untuk prestasi akademik, namun juga untuk prestasi non-akademik (misalnya prestasi dalam bidang musik, olah raga, menari, dan sebagainya). Sebagai contoh, pihak sekolah dapat menerapkan sistem exhibition, di mana setiap murid diberikan kesempatan untuk menampilkan karyanya untuk dipajang di aula sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga dapat memberikan reward untuk murid dengan prestasi terbaik, dan mengumumkannya kepada murid-murid lain.

2. Membatasi jumlah murid dalam satu kelas
Jumlah murid yang terdapat dalam satu kelas mempengaruhi interaksi yang terjadi antara guru dengan murid-muridnya. Dengan jumlah murid yang lebih sedikit, murid memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapat perhatian guru, dan hubungan guru-murid pun dapat terjalin dengan lebih baik. Guru memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengenal masing-masing murid secara personal, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing murid, dan memotivasi mereka secara individual.

3. Melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar anak
Seperti telah dibahas sebelumnya, keterlibatan orang tua memiliki dampak positif bagi motivasi anak. Pihak sekolah dapat melibatkan orang tua dengan berbagai macam cara, misalnya secara berkala mengadakan pertemuan guru dengan orang tua untuk membicarakan perkembangan murid, dan mengadakan kegiatan-kegiatan di sekolah yang dapat mengikutsertakan orang tua murid.

4. Memberlakukan sistem pengelompokkan (grouping) yang menstimulasi interaksi murid
Sistem pengelompokkan murid berdasarkan kelas sosio-ekonomi atau kelompok etnis tertentu haruslah diminimalisasi. Begitu pula dengan sistem pengelompokkan murid berdasarkan prestasi akademiknya (murid-murid yang pintar dikelompokkan ke dalam satu kelas tersendiri, sementara murid-murid yang kurang pintar dikelompokkan ke dalam kelas lain). Biarkanlah murid-murid dengan berbagai latar belakang berinteraksi satu sama lain. Selain meningkatkan motivasi murid di sekolah, hal ini dapat melatih murid untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan murid lain yang memiliki latar belakang berbeda dengan dirinya.




biarkanlah murid berinteraksi dengan bebas tanpa harus dikelompokkan berdasarkan status ekonomi, etnis, atau prestasi akademik...

Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.

Gambar diambil dari:

Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Kelas


Stipek (dalam Santrock, 2008) mengatakan bahwa murid yang bermasalah di sekolah pada umumnya memiliki interaksi yang negatif dengan gurunya. Hal inilah yang saya alami dulu ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Saya tidak pernah suka dengan pelajaran bahasa Mandarin, karena guru yang mengajar mata pelajaran tersebut sangat membosankan. Selama pelajaran, ia hanya membebani kami dengan pekerjaan menulis aksara mandarin terus-menerus, tanpa ada interaksi dengan kami. Ia tidak pernah memberikan humor di kelas, tidak pernah menanyakan kesulitan apa yang kami hadapi, dan ia tidak mengenal kami secara personal. Rasa tidak suka saya akhirnya membuat saya malas belajar, dan tidak heran jika nilai bahasa Mandarin saya selalu buruk..

Tidak diragukan lagi, guru memegang peran penting dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebagai tokoh sentral dalam pembelajaran, guru berperan sebagai pengajar, motivator, sekaligus juga model atau panutan bagi murid. Stipek (dikutip dalam Schunk, Pintrich, & Meece, 2008) mengatakan bahwa setiap perbuatan guru memiliki potensi untuk meningkatkan motivasi murid. Dengan demikian, tidak hanya perbuatan memberikan reward kepada murid yang dapat meningkatkan motivasi murid, melainkan perbuatan seperti perencanaan pembelajaran dan manajemen kelas juga dapat meningkatkan motivasi murid.

So, what can teacher do to increase student’s motivation??
Berikut ini merupakan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi murid di kelas:


1. Memberikan feedback (umpan balik) atas hasil pekerjaan murid
Pemberian feedback merupakan hal yang penting untuk meningkatkan motivasi murid. Dengan memberikan feedback, guru memberi tahu murid mengenai kesalahan yang diperbuatnya, juga memberi tahu bagaimana memperbaiki kesalahannya tersebut. Selain memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah, guru juga dapat memberikan kata-kata penyemangat, seperti ”Kamu pasti bisa!” atau ”Prestasi kamu sungguh membanggakan!”. Pemberian feedback membuat murid merasa dihargai, dan menunjukkan bahwa guru memperhatikan murid-muridnya (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008)

2. Memberikan rewards atau penghargaan atas prestasi murid
Pemberian rewards terhadap prestasi murid merupakan salah satu aplikasi teori pembelajaran Skinner (operant conditioning), bahwa perilaku yang mendapat rewards akan cenderung diulangi, sementara perilaku yang mendapat hukuman akan cenderung untuk tidak diulangi. Rewards yang diberikan dapat berupa poin tambahan, waktu istirahat tambahan, stiker, pujian, dan sebagainya. Bentuk lain dari rewards adalah dengan rekognisi, misalnya dengan memajang hasil karya terbaik di kelas, atau dengan mengumumkan di depan kelas siapa yang memperolah nilai tertinggi pada saat ulangan (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008).

3. Menciptakan iklim kelas yang mendukung murid untuk belajar
Iklim kelas diartikan sebagai atmosfer atau suasana di dalam kelas. Iklim kelas berhubungan dengan gaya pengajaran dan kepemimpinan guru di dalam kelas. Penelitian yang dilakukan oleh Lewin, Lippitt, dan White (dikutip dalam Schunk, Pintrich, & Meece, 2008) membuktikan bahwa motivasi murid akan lebih meningkat apabila guru menerapkan gaya pengajaran yang demokratis; ditandai dengan sikap guru yang bersahabat, memberikan otonomi yang cukup kepada murid, menstimulasi murid untuk menyatakan pendapatnya di kelas, dan mendorong murid untuk saling berkolaborasi dalam memecahkan suatu permasalahan. Seorang guru yang demokratis tidak mengontrol muridnya secara berlebihan, namun tetap memberikan batasan terhadap perilaku murid.

4. Memberikan tugas-tugas yang menantang dan menarik perhatian murid
Untuk memotivasi murid, guru dapat memberikan tugas-tugas yang bervariasi dan menarik bagi murid, menyediakan dukungan emosional dan kognitif yang memadai bagi murid dalam mengerjakan tugasnya, serta menyediakan berbagai material yang dibutuhkan murid untuk dapat menyelesaikan tugasnya tersebut (Santrock, 2008).

Selain keempat hal di atas, ditemukan bahwa karakteristik guru juga dapat meningkatkan motivasi belajar murid. Salah satu karakteristik tersebut adalah antusiasme guru dalam mengajar. Penelitian yang dilakukan oleh McDermott et al. (dikutip dalam Nevin & Knoblock, 2005) menunjukkan bahwa antusiasme guru di dalam kelas dapat membentuk iklim kelas yang positif untuk mendukung proses belajar mengajar. Guru yang antusias dalam mengajar akan berusaha untuk mengenal muridnya secara personal, misalnya dengan mengenal latar belakang keluarganya. Selain itu, antusiasme guru juga ditunjukkan dengan cara bersikap hangat dan peduli kepada murid, menunjukkan emosi di kelas (misalnya dengan menggunakan humor), dan menciptakan suasana kelas yang interaktif (misalnya mengajak murid untuk saling berdiskusi, atau memberikan pertanyaan kepada murid). Hal ini akan menjadikan suasana kelas lebih ’hidup’ dan mencegah anak merasa bosan selama belajar di kelas.

Selain antusiasme, guru juga dapat meningkatkan motivasi belajar murid dengan menggunakan berbagai metode secara variatif untuk memenuhi kebutuhan masing-masing murid. Guru perlu menyadari bahwa masing-masing murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk dapat menjangkau setiap murid, guru perlu menerapkan pendekatan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing murid (Nevin & Knoblock, 2005).

Antusiasme guru dalam mengajar dan kemampuan guru untuk menggunakan berbagai metode pengajaran secara variatif juga turut mempengaruhi motivasi belajar siswa...


Sumber referensi:
Nevin, N. A. & Knoblock, N. A. (January 2005). Is your classroom the happenin’ place to be? The Agricultural Education Magazine, 77, 17-18.

Santrock, J. W. (2008). Educational psychology (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.

Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.

Gambar pertama dan kedua diambil dari http://www.clipart.com/details/clipart/1584

Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Anak


Pengaruh sosio-kultural dari teman sebaya, keluarga, budaya, dan komunitas memegang peranan penting dalam perkembangan, pencapaian (achievement), dan motivasi anak. Faktor yang akan dibahas secara lebih mendalam dalam posting kali ini adalah faktor keluarga. Sebagai pihak yang paling dekat dengan kehidupan anak, tidak diragukan lagi bahwa keluarga, terutama orang tua, memegang peranan penting dalam meningkatkan motivasi anak dalam belajar.

Berikut ini adalah beberapa cara praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan motivasi anak di sekolah (Schunk, Pintrich, & Meece, 208):

1. Menciptakan iklim rumah yang mendukung anak untuk belajar
Orang tua dapat menyediakan berbagai perlengkapan maupun permainan yang dapat mendukung anak untuk belajar, misalnya seperti komputer, buku-buku, puzzle, dan sebagainya. Dengan demikian, orang tua secara tidak langsung memotivasi anak dengan cara menstimulasi rasa ingin tahunya, serta mendorong anak untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

2. Sediakan waktu yang cukup untuk terlibat dalam kegiatan belajar anak
Selain menciptakan iklim rumah yang dapat mendukung anak untuk belajar, interaksi orang tua dengan anak ternyata juga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menemani anak belajar, menunjukkan perhatian terhadap kegiatan belajar anak, memberikan bantuan ketika anak menghadapi kesulitan, dan sebagainya. Sebagai partner anak dalam belajar, orang tua sebaiknya menunjukkan sikap yang hangat dan positif terhadap anak, misalnya dengan tidak memarahi anak ketika anak tidak dapat mengerjakan PR-nya dengan baik.

3. Berikan penghargaan atau respon positif terhadap setiap prestasi anak
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan hadiah atau pujian. Dengan demikian, anak merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu.

4. Didiklah anak secara demokratis
Kontrol yang terlalu ketat terhadap anak akan ‘mematikan’ motivasi anak. Secara umum, motivasi anak cenderung meningkat ketika orang tua mengizinkan anak untuk membuat keputusan sendiri, memperhatikan kebutuhan dan perasaan anak, serta menyediakan pilihan dan alternatif kepada anak. Komunikasikan harapan dan keinginan orang tua kepada anak dalam bentuk saran, dan bukan dalam bentuk perintah.

Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.

Friday, December 11, 2009

Motivation: An Introduction


Kata motivasi berasal dari Bahasa Latin, movere, yang berarti bergerak. Secara sederhana, motivasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku individu. Mengapa disebut sebagai proses? Karena kita tidak dapat mengobservasi motivasi secara langsung, melainkan kita mengetahuinya dari perilaku dan perkataan individu. Woolfolk (2004) menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan lima pertanyaan dasar, yaitu:

1. Perilaku seperti apa yang akan dilakukan oleh individu? Contoh: apakah anak lebih memilih untuk mengerjakan PR-nya atau menonton televisi?

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan individu untuk melakukan perilaku tersebut? Contoh: apakah anak langsung melakukan tugasnya atau menunda-nunda tugasnya tersebut?

3. Seberapa intens atau terlibatnya individu dalam perilaku tersebut? Contoh: apakah anak mengerjakan tugasnya dengan fokus, atau mengerjakannya secara asal-asalan dan tergesa-gesa?

4. Apakah yang menyebabkan individu cepat menyerah atau tetap bertahan dalam melakukan perilaku tertentu? Contoh: apakah anak tetap menyelesaikan tugas sampai selesai, atau hanya mengerjakan bagian yang mudah saja?

5. Apakah perasaan dan pemikiran individu mengenai suatu perilaku tertentu? Contoh: apakah anak menikmati proses belajar yang ia lalui, atau merasa bahwa kegiatan tersebut sebagai beban?

Motivasi memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Schunk, Pintrich, dan Meece (2008) mengatakan bahwa motivasi mempengaruhi perilaku belajar anak di sekolah, sehingga pada akhirnya mempengaruhi prestasi belajar anak. Oleh karena itu, siswa yang tidak memiliki motivasi akan cenderung untuk menampilkan perilaku yang bermasalah, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru di kelas, tidak mencatat materi pelajaran dengan baik, tidak belajar ketika ada ujian, dan sebagainya.

Terdapat dua macam motivasi, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Ketika individu melakukan suatu kegiatan karena merasa tertarik dan menikmati kegiatan tersebut, individu dikatakan memiliki motivasi internal. Sementara itu, ketika individu melakukan sesuatu karena individu percaya bahwa perilakunya tersebut dapat menghasilkan desirable outcomes baginya, individu dikatakan memiliki motivasi eksternal. Desirable outcomes yang dimaksud dapat berupa pujian, hadiah, atau terbebas dari hukuman tertentu.

Sumber referensi:
Schunk, D. H., Pintrich, P. R., & Meece, J. L. (2008). Motivation in education: Theory, research, and applications. Upper Sadle River, NJ: Pearson Education.

Woolfolk, A. (2004). Educational psychology (9th ed.). Boston, MA: Allyn and Bacon.

Gambar diambil dari http://www.flickr.com/photos/anvrecife/2869382770

Wednesday, December 9, 2009

what am i gonna do next?

Hello guys =) udah lama sekali nggak nulis blog lagi.. Pretty busy lately (pastinya, huh!).. Belakangan ini, selain disibukkan dengan skripsi yg nggak kunjung ada kemajuan, saya juga disibukkan dengan segudang assignment dan ujian. Kemarin ini baru melewatkan 30 menit ujian piano yg penuh horor, dan sukses menjawab pertanyaan2 ajaib dengan jawaban yg bodoh ckckckck i hate piano exam! (i'm sorry guys kalo terdengar sarkastik, mungkin masih terbawa emosi). Mengenai skripsi, setelah mid-semester exam, practically saya cuma bimbingan 1 kali. Ibu dosen pembimbing rupanya sedang sibuk kuadrat,so jadilah saya kebingungan sendiri mesti ngapain.. Di saat-saat yg lagi sibuk2nya ini, i'm supposed to have good time-management, right? Tapi kenyataannya, sekarang ini saya lagi terserang sindrom malas akut, yg membuat saya malas banget ngapa-ngapain (confession no. 1 hehehe)..

So, i've been thinking lately, apa yang terjadi dengan saya??? =b cieellah gaya! Hahaha.. Kesimpulan saya semnetara ini adalah: maybe i'm just bored with this routine. Ke kampus, masuk kelas, belajar, buat tugas, ke sekolah musik, ketemu anak2 yg buat gurunya 'panas', les, latihan piano, etc. Yang terutama di sini, saya bosan banget belajar! Huh! Hampir 3/4 umur ini saya habiskan di bangku sekolah.. It's not that i'm not grateful with what i have, no at all.. Saya bersyukur sekali bisa mengenyam pendidikan sampai saat ini. But, i don't know, i just want to try something else..Try to work maybe?? ;p hehehe..

Semester depan saya sudah memasuki semester terakhir di kampus (SEMOGA!). Hopefully bisa sidang skripsi tepat waktu, jadi nggak perlu berlama2 di kampus itu lagi hahahaha =b So, right know i'm wondering, what am i gonna do next with my life??? Sempet sih berkhayal tingkat tinggi.. Jadi gini khayalannya, saya menghilang sementara waktu dari Jakarta & go to some exotic places, maybe Dubai or Milan.. Nggak tau juga sih disana bakal ngapain, the point is: i want something new! Siapa tau kecantol sama cowok Italia yg ganteng hahahaha =b mengkhayal boleh dong?!

Ok, Ok, stop mengkhayalnya.. So, berikut ini adalah beberapa hal yg mungkin akan saya lakukan tahun depan:
1. Jadi asisten dosen
2. Mengajar kelas teori di sekolah musik
3. Belajar bahasa mandarin
4. Magang

Not that bad, right? =)

Friday, October 23, 2009

one in a million

Huuuaaa capek! Jam 20.40 baru nyampe rumah, dan sekarang (21.30) baru aja kelar mengirim data-data hasil olah data ke teman2 satu tim.. Jadi begini ceritanya, saya dan beberapa teman di kampus dipercaya untuk mewakili fakultas mengikuti sebuah lomba di sebuah universitas di Jawa Timur sana (ciieellah..) Dan karena baru terima kabar 2 hari yang lalu, sementara deadline pengumpulan materi adalah tgl27Okt, jadilah kita ngibrit tunggang-langgang mengerjakan semuanya.. Mulai dari cari topik, buat angket, sebar angket, olah data, sampai disusun menjadi sebuah poster untuk dikirim via e-mail.

Yang ingin saya bagikan malam ini bukanlah cerita mengenai terpilihnya saya untuk ikut lomba tsb, tapi pengalaman berharga selama proses pengolahan data yang barusan saja terjadi bersama seorang teman dan seorang dosen yang menurut saya... sangat luar biasa!

Begini ceritanya.. Tadi sore, tepatnya jam 16.00, saya dan teman saya (sebut saja NM) harus menunggu untuk dapat bertemu dengan Bapak T, seorang dosen yang akan membantu kami mengolah data. Ditunggu-tunggu, akhirnya jam 17.30 kita baru bisa bertemu dengan Bapak T,karena beliau baru selesai rapat. Jam 17.30 pun tidak langsung mengerjakan, tapi harus menunggu lagi, kurang lebih sampai jam 18.00 karena beliau harus mengurusi mahasiswa lain yang hendak meminjam alat tes.

Jam 18.00 pun dimulai proses pengolahan data.. Detail statistik-nya dilewatkan saja yah? =b selain tidak begitu paham, agak2 nggak pede kalo ngomongin angka2 hehehe bukan bidangnya soalnya! Nah, kita selesai mengolah data sekitar pukul 20.15. Selama proses pengolahan data berlangsung, Bapak T ini begitu sungguh2 meladeni setiap pertanyaan 'bodoh' kita seputar statistik (ya iya lah, orang kaga ngarti!), dan begitu serius menjelaskan gambaran hasil penelitian kita. Meskipun matanya sudah terlihat sayu, posisi duduknya pun udah bersender ke kursi, tangan kiri menopang kepala, sambil sesekali menguap, beliau tetap serius dan penuh senyum dalam mengerjakan pengolahan data ini sampai selesai.

Terus di mana bagian yang luar biasanya? Ketika sedang mengolah data, beberapa kali Bapak T menerima telpon (yang kalau saya tebak dari istrinya). Dari pembicaraannya tsb, saya pun tahu bahwa anaknya sedang sakit. Dan, ternyata beliau pun sedang sakit, karena (lagi-lagi dari pembicaraannya di telpon), beliau meng-cancel janjinya untuk ke dokter gigi untuk tambel gigi. Udah gitu, beliau ini nggak sungkan-sungkan untuk berbagi brownies dengan kita =b mungkin tampang2 kita udah tampang2 kelaperan banget kali yah hahahaha..Plus, pas kita pulang, Bapak T ini 'menghadiahkan' masing2 dari kita sepotong kue-nya, ckckckck.. Udah diolahin data, nebeng laptop, dapet konsumsi pula..

Setelah pulang, baru saya terkagum2 dengan kebaikan dan ketulusan hati Bapak T dalam melayani mahasiswanya. Emangnya kite ini siape sampe die segitunye??!! Tapi Bapak ini nampaknya tidak pernah membeda2kan siapa orang yang dibantunya, juga dengan siapa ia berhubungan. Ketika jalan keluar menuju jalan raya, sepanjang jalan Bapak T ini menegur setiap satpam dan petugas sekuriti yang ada di kampus. Dan canggihnya, ia tahu nama mereka satu per satu! Ckckck..Benar-benar lho, Bapak ini contoh nyata dari perumpamaan 'semakin berisi, padi akan semakin merunduk'. Kadang saya merasa malu sendiri, kok bisa yah orang hebat seperti beliau ini bisa begitu rendah hati dan mau melayani sesama?? *masih terkagum-kagum*

Ayuk yuk, kita mulai berbuat kebaikan dengan hal2 kecil yang bisa kita lakukan =) saya yakin, sebuah perbuatan yang sederhana pun dapat berdampak besar jika dilakukan dengan ketulusan hati..

Sunday, October 4, 2009

suatu hari di bus kota

Entah mengapa, akhir-akhir ini saya sering diajak ngobrol supir atau kenek bus. Yah, nggak bisa dibilang sering juga sih, karena baru dua kali hihihi tapi kalau mau dihitung rasionya, ini baru kali pertama dalam sejarah saya naik bus. Dulu-dulu sih pernah, tapi paling juga nanya, “Jam berapa, mbak?” atau “Di daerah ini masih hujan nggak, mbak?” (dikiranya gue pawang hujan kali hehe).

Nah ceritanya, dalam 3 hari ini, terjadi 2 peristiwa di mana supir dan kenek bus itu mengajak saya ngobrol. Peristiwa yang kedua baru saja terjadi kemarin, sekitar jam 6.45 sore. Waktu itu saya baru pulang mengajar, dan hujan deras sekali di daerah roxy. Seperti biasa, dari roxy ke rumah saya, saya tempuh dengan menggunakan metromini 91 jurusan tanah abang-batu sari. Begitu saya naik bus, si abang kenek sedang mengelap kursi-kursi yang basah akibat bocor. Kemudian, dia berkata pada saya, “Di sini aja Neng duduknya, di sini nggak bocor. Kalau yang lain kena bocor.” Saya pun hanya tersenyum, menuruti anjurannya, dan duduk di tempat yang ia anjurkan. Setelah itu, ia pun duduk di tempat duduk yg terletak di sebelah supir. Selang beberapa menit, naik lah tiga orang ibu-ibu dengan satu anak kecil. Ibu-ibu ini kebingungan karena di mana-mana kok bocor semua. Si kenek pun mempersilahkan tempat duduknya diambil oleh ibu-ibu ini, dan ia kemudian pindah ke tempat duduk di sebelah saya (yang agak kena cipratan air karena terletak di sebelah jendela).

Beberapa menit setelah ia duduk, ia mulai mengajak ngobrol saya. Dibuka dengan pertanyaan, ”Baru pulang kuliah, Neng?”, ia mulai cerita bermacam-macam hal. Mulai dari tips menghindari copet, pengalamannya kerja jadi kenek, sampai topik mati lampu dan apesnya uang setoran kalau sedang hujan. Dalam hati saya, ini orang ngajak ngobrol apa curhat colongan, hehehe ;p pas saya turun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.”

Peristiwa yang pertama terjadi 3 hari yang lalu, ketika saya pulang kuliah. Ini pun terjadi ketika saya naik metromini 91 dari kampus ke rumah. Waktu itu, yang mengajak ngobrol si abang supir, karena saya duduk di sebelah supir. Percakapan ini pun dimulai dari pertanyaan, ”Pulang kuliah ya, Neng?”. Kalau dengan si abang kenek, ia lebih banyak cerita, kali ini si abang supir lebih banyak bertanya kepada saya. Mulai dari pertanyaan kuliah jurusan apa, udah semester berapa, asli orang mana, usia saya berapa, dan akhirnya ia pun cerita satu topik yang membuat saya tergugah. Ceritanya begini..

Abang Supir (AS): ”Tumben lho Neng, ada orang kayak Neng. Jarang-jarang, Neng.”
Saya: ”Maksudnya??”
AS: ”Iya, biasanya kalo orang kayak Neng itu sombong, kalo diajak ngobrol suka pura-pura nggak denger, jadi nggak dijawabin.”
Saya: ”Ah, masa sih Bang?”
AS: ”Iya Neng, kebanyakan mahasiswa begitu.”
Saya: "Mungkin emang beneran nggak denger kali Bang.. Kan mesinnya berisik begini."
AS: "Ah, nggak mungkin Neng. Orang bukan sekali dua kali.."
Saya: ”Atau mungkin lagi jelek mood-nya Bang, siapa tau lagi bokek..”
AS: ”Hahaha iya juga ya Neng.. Mungkin nggak semuanya kayak gitu kali ya?”
Saya: ”Iya Bang, nggak bisa kita bilang semuanya kayak gitu. Siapa tau juga orang yang Abang ajak ngobrol itu lagi patah hati Bang, jadi males ngomong hehehe..”
AS: ”Hahaha si Eneng bisa aja..”

Obrolan pun terus berlanjut, dan tidak lama sesudah itu, saya turun. Pas saya turun pun, tidak lupa ia berkata, ”Hati-hati ya Neng.” Nah, kenapa saya bilang tergugah?? Karena seringkali kita bersikap pada orang lain dengan memandang strata sosial mereka. Kalau orangnya kira-kira kucel2, kita akan cenderung menjaga jarak, bahkan seperti kata si abang supir, pura-pura tidak mendengar ketika diajak bicara. Kita sudah cenderung memiliki praduga yang buruk, jangan-jangan orang ini mau jahatin saya. Padahal sebenernya, kita semua adalah sama di mata Tuhan. Mau yang kucel, yang bling-bling, yang kulit hitam, kulit putih, yang sipit, belo, tua, muda, semua sama saja. Jadi, jangan salahkan orang lain, kalau mereka punya stereotipe bahwa kelompok orang tertentu sombong, karena memang sikap kita kepada mereka yang membentuk semua stereotipe itu! Alangkah baiknya kalau semua kelompok bisa rukun dan bisa bersikap satu sama lain tanpa adanya prasangka tertentu :)

Dan satu pelajaran lagi, di tengah-tengah dunia yang jahat ini, ternyata masih ada kok orang-orang baik, seperti si abang kenek yang memberikan saya tempat duduk bebas bocor dan memberikan saya tips anti-copet.. Jadi janganlah kita menganggap semua orang itu sama. Kadang, ada orang-orang tertentu yang ’berbeda’.

Salam,

natalie_ijonk